BPM Jatim : Pengurusan Izin Prinsip Turun Akibat Rupiah Merosot

BPM Jatim : Pengurusan Izin Prinsip Turun Akibat Rupiah Merosot
Kepala Badan Penanaman Modal Provinsi Jawa Timur Lili Sholeh, foto: arya wiraraja/enciety.co

Merosotnya nilai tukar rupiah hingga Rp 14 ribu lebih sangat mempengaruhi situasi investasi di JawaTimur. Terutama di bidang Penanaman Modal Asing (PMA) dan bidang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDM).

Menurut data Badan Penanaman Modal (BPM) Jawa Timur, dari izin prinsip peminat investasi pada semester yang sama tahun 2014 lalu mencapai 85 persen, sementara tahun 2015 hanya mencapai 70 persen. Ada penurunan permintaan 15 persen.

Hal tersebut dikatakan Kepala Badan Penanaman Modal Provinsi Jawa Timur Lili Sholeh pada enciety.co, Senin (7/9/2015).

Dijelaskan, di bidang izin prinsip realisasi, BPM Jawa Timur mencatat pada tahun 2014 sebanyak 90 persen, sedang pada tahun 2015 hanya mencapai 64 persen, ada selisih penurunan mencapai 26 persen.

“Perlu dicermati, ada moda investasi yang tidak terpengaruh oleh menurunnya nilai tukar rupiah, yaitu PMDM Non Fasilitas (Penanaman Modal Dalam Negeri yang tidak menggunakan fasilitas). PMDM Non Fasilitas adalah investasi yang tidak menggunakan fasilitas dari pemerintah. Kebanyakan bahan baku yang digunakan berasal dari dalam negeri,” tuturnya.

Dia juga menyampaikan, penyebab utama menurunnya izin prinsip realisasi tersebut adalah penyediaan bahan baku impor yang harus dibeli dengan dolar. “Dengan adanya fenomena ekonomi semacam ini, banyak investor yang mengurungkan niatnya untuk membuka usahanya,” jelas dia.

Untuk menyikapi hal tersebut, Gubernur Jawa Timur melakukan beberapa cara untuk menarik investor agar dapat segera mengurus izin prinsip realisasi.

“Ada empat garansi dari gubernur untuk menarik investor. Pertama, memberikan kemudahan penyediaan lahan di kawasan industry. Kedua, ketersediaan pasokan listrik. Ketiga, penyediaan perizinan yang telah dipermudah dan disederhanakan. Keempat, penyediaan tenaga kerja yang memiliki skill dan berpengalaman,” tutur Sholeh.

Selain empat garansi tersebut, Jawa Timur memiliki infrastruktur yang komplet. Di antaranya lapangan terbang di tiap-tiap kota yang memiliki basis industri, seperti Jember, Banyuwangi dan Malang. Dengan adanya infrastruktur yang komplet, menjadikan Jawa Timur daerah primadona tujuan investasi.

Diungkapkan Soleh, beberapa Kota di Jawa Timur mengalami goncangan akibat menurunnya nilai tukar rupiah. BPM Jawa Timur mencatat, di antaranya adalah pabrik sepatu, pabrik elekronik Panasonik dan garmen di Pasuruan dan Mojokerto.

“Rata-rata yang terguncang adalah usaha padat karya yang usahanya menyerap tenaga kerja. Perlu dicatat, kebanyakan pabrik-pabrik tersebut mengandalkan pasokan bahannya dari luar negeri,” tandasnya. (wh)