Bosan Hidup Miskin

Bosan Hidup Miskin

 

 

Suwandono (mr.swand@yahoo.co.id)

 

Satu-satunya motivasi saya menjadi pengusaha adalah bosan hidup miskin. Saya waleh alias mblenger hidup serba pas-pasan. Kesadaran itu tumbuh saat saya duduk di bangku SLTA, tepatnya ketika Ibu saya berpulang. Padahal, beliau ibarat mesin pencetak uang bagi keluarga. Bapak saya hanya PNS golongan terendah dan kebablasan dalam mengamini filosofi nrimo ing pandum, hingga lupa bekerja keras mencari side income.

Rasa bosan itulah yang memacu saya belajar mati-matian dengan target bisa kuliah di perguruan tinggi negeri. Karena mustahil kuliah di PTS yang biayanya lebih mahal. Saat kuliah, jerat kemiskinan kian menggila. Meski punya beras yang saya bawa dari kampung, untuk menyalakan kompor saja terpaksa mengemis minyak tanah pada teman kos (pernah juga mencurinya). Ketika semester tiga, napas saya lumayan lega karena bekerja sebagai tenaga part timer sebuah kantor akuntan publik. Namun, kemiskinan ternyata belum bosan mencengkeram karena beban harus membiayai sekolah adik-adik saya.

Setelah lulus kuliah, saya bekerja di perusahaan real estate. Hidup mulai lebih tertata meski masih ngos-ngosan. Sebagai pegawai, saya leluasa melihat dua kehidupan bak bumi dan langit. Kehidupan teman-teman sesama pegawai dan kehidupan sang Bos. Bagaimana enaknya hidup si Bos tentu tak perlu saya ceritakan panjang lebar, pokoknya uueenak tenan. Sebaliknya, hati saya mengkerut saat mengintip keadaan senior-senior saya sesama pegawai.

Meski telah kerja puluhan tahun, hidupnya hanya begitu-begitu saja.  Bahkan, banyak yang kembang-kempis. Lantas, saya mencoba menghitung peluang dan membayangkan keadaan yang akan saya alami jika tetap menjalani profesi pegawai. Pasti tak jauh berbeda dengan senior-senior saya itu. Kesadaran itu berbuah pemberontakan diri yang didorong kebosanan hidup miskin. Saya harus bisa seperti si Bos, tekad saya pada saat itu. Saya tidak ingin menggantungkan nasib pada belas kasihan orang lain (bos pemilik perusahaan).

Pemberontakan itu menjadi starting point perubahan pola fikir saya. Jika sebelumnya niat bekerja hanya mencari uang, berubah mencari ilmu dan menambah relasi. Alhasil, dengan menjual ilmu yang saya hisap semasa menjadi pegawai, saya bisa mendirikan perusahaan real estate. Duitnya dari mana? dari relasi yang saya kenal semasa masih menjadi pegawai pula. Bisnis real estate yang bagi banyak orang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang berkantong tebal, bisa saya bangun dengan hanya bermodal ilmu dan relasi. Tanpa modal uang sepeser pun. Di usia 24 tahun, saya bisa lepas dari jerat kemiskinan.

Tanpa bermaksud memuji diri sendiri, kisah ini saya tulis dengan tujuan agar bisa menjadi pencerahan dan pembakar semangat pembaca Koran ini yang masih bergumul dengan kemiskinan. Saya berani menegaskan bahwa peluang terbesar untuk lepas dari kubangan kemiskinan adalah dengan menjadi wirausahawan. Bagaimana dengan profesi pegawai? Kemungkinan kaya tetap ada. Namun, peluangnya amat kecil. Bagaimana dengan para pejabat yang kaya raya? Tanya saja pada mereka. Menurut saya, gaji mereka tidak memungkinkan untuk bisa kaya kecuali mereka juga berbisnis atau mendapat warisan segunung. Selain dua hal itu saya tidak mengerti mereka bisa kaya raya dengan jalan apa.