Bos Segosoge Bagi Tips Usaha di Kota Madiun

Bos Segosoge Bagi Tips Usaha di Kota Madiun

Sufiyanto Arief. foto: ist

Sufiyanto Arief, owner Segosoge, berbagai pengalaman di Kota Madiun. Pelaku usaha anggota Pejuang Muda Surabaya itu membagi tips sukses di acara Pendampingan UMKM Kota Madiun dalam rangka Peningkatan Produktivitas dan Peningkatan Daya Saing Dalam Dunia Usaha, di Hotel Amaris Kota Madiun, Senin (22/4/2019).

Arief menceritakan pengalamannya merintis usaha kuliner dari nol. Ketika dia, resign dari perusahaan perikanan multinasional yang bergerak di bidang manufacturing (food Industries), distribution, dan export di Gresik

“Yang saya pikirkan saat itu, bagaimana punya pendapatan besar. Kalau jadi karyawan terus ya susah. Makanya saya keluar, buka usaha,” katanya, lalu tersenyum.

Sebelum resign, Arief disarankan temannya agar punya tabungan cukup kebutuhan sehari-hari selama tiga bulan. Itu dibutuhkan agar dia lebih fokus berusaha.

“Sekitar tahun 2013, saat masih jadi karyawan, saya jualan sosis bakar. Bahannya dari frozen food. Saya jual di sekolah dan kampus. Itu buat celengan sebelum saya resign,” beber dia di hadapan puluhan orang yang menghadiri acara tersebut.

Setelah berbulan-bulan jualan sosis bakar, Arief bisa menabung. Rupiah demi rupiah dikumpulkan. Hingga pada saatnya, dia memberanikan diri resign dengan konsekuensi tidak mendapat pendapatan pasti tiap bulannya.

Setelah menekuni jualan sosis bakar, Arief merasa tak banyak kemajuan. Keuntungan yang diraup bisa dibilang tipis. Saingannya juga banyak. Kondisi ini membuatnya harus berpikir keras untuk mencari cara meningkatkan usahanya. Hingga suatu ketika dia dapat inspirasi dengan makanan cepat saji asal Jepang.

“Saya berpikir kenapa tidak membuat makanan sejenis dengan harga lebih murah,” ungkap pria kelahiran Surabaya, November 1979 ini.

Makanan yang dijajakan Arief itu sejenis rice bowl. Arief memberi sentuhan inovasi pada sausnya. Awal dijual belum banyak yang menyukai. Seiring waktu, dia berhasil menggaet anak-anak muda di sekolah dan kampus.

Lalu, kenapa dilabeli Segosoge? Arief mengaku saat itu belum memikirkan nama. Hanya memproduksi saja. Dia baru sadar membuat brand setelah dagangannya mulai laku.

“Nama itu saya dapatkan saat di kamar kecil. Lagi ngelamun. Eh, tercetus ide memberi nama Segosoge. Siapa pun yang beli saya doakan cepat soge (kaya). Ya, kalau kaya mereka bakal beli lagi,” ujar Arief, lantas tersenyum.

Arief  menuturkan, untuk menjadi pelaku usaha jangan hanya berpikir senangnya saja. “Kita harus siap dengan segala risiko. Dicibir, gak laku, dan banyak lah,” tutur dia.

Arief mengaku mengalami proses pahit menjalankan usaha. Dari rugi, tidak laku, dibohongi teman, dan masih banyak lagi. “Kalau ingat-ingat, saya pernah jatuh di jalan bawa barang sampai sebelas kali. Alhamdulillah, sampai sekarang bisa terus berjalan,” aku dia. (wh)

Bos Segosoge Bagi Tips Usaha di Kota Madiun