Bonus Demografi dan Masa Depan Anak-Anak Kita

Bonus Demografi dan Masa Depan Anak-Anak Kita
Kresnayana Yahya

Prediksi tentang bonus demografi di Indonesia sepertinya bukan isapan jempol belaka. Ini karena sedikitnya ada 5 juta anak lahir setiap tahunnya.  Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah setiap tahunnya. Namun sayangnya, lingkungan yang tidak kondusif membuat anak tidak bisa mendapatkan pendidikan secara maksimal dari orang tua maupun lingkungan sekitarnya.

Untuk mencari jati dirinya biasanya anak akan mengikuti dan mencontoh kehidupan orang tuanya. Padahal kehidupan yang dijalani orang tuanya belum tentu sama dengan perkembangan anak. Akibatnya, anak dipaksa untuk mengonsumsi hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan anak-anak.

Ini karena fasilitas publik untuk anak juga masih minim. Anak dipaksa mengonsumsi berita politik, perekonomian, pertikaian, kriminalitas di semua aspek kehidupan. Padahal media massa kita terlalu terbuka mempengaruhi untuk menjangkau semua umur dan mempengaruhi anak-anak.

Lihat percakapan anak-anak sekarang ini membuat kita merasa terkejut. Padahal anak-anak di usia satu hingga tujuh tahun itu sangat membutuhkan kondisi lingkungan yang kondusif. Harusnya, ada relawan anak yang menjamin kebutuhan anak-anak terpenuhi. Sampai hari ini alokasi anggaran maupun perhatian negara untuk menjamin kehidupan anak-anak, khususnya anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dianggap belum banyak.

Saya berharap pemerintah lebih banyak memperhatikan anak-anak lebih jauh. Mulai dari apa yang ia tonton sehari-hari, taman anak-anak, maupun fasilitas publik lain yang khusus untuk anak-anak. Karena jumlah anak-anak saat ini rata-rata 4,5 juta hingga 5 juta anak per tahun.

Saya mencontohkan yang dilakukan pemerintah Inggris. Disana pemerintah mewajibkan warganya ikut training belajar menjadi ayah dan ibu yang baik. Termasuk yang terjadi di Finlandia dan Korea, yang mengajak masyarakatnya untuk peduli dengan anak.

Pendidikan masyarakat bukan soal cari makan saja, tapi butuh pengembangan anak. Namun yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya. Media untuk anak semakin minim dan terbatas. Film-film khusus anak juga tidak ada lagi. Termasuk media komunikasi anak-anak seperti radio maupun internet yang sangat minim.

Di Indonesia, anak-anak di-bully dengan adanya lingkungan yang semakin beringas. Kita berharap ada tanggung jawab penuh orang tua untuk membimbing anak dan tidak membiarkan diasuh orang lain. Nantinya saya berharap teknologi juga bisa menjembatani anak.

Kesiapan keluarga untuk menyiapkan anak untuk masa depan juga sangat penting. Mempunyai anak bukan soal tekanan sosial. Mendidik anak itu untuk masa depan. Jadi, mari kita persiapkan. Anak yang hidup dalam kekerasan perkembangannya bakal tidak baik. Kita harus mengajari anak secara fair tentang kehidupan ini. Masyarakat harus paham bagaimana peduli anak ini. (wh)