Bob Sadino dan Ritel Modern

Bob Sadino dan Ritel Modern

Arifin BH (arifinbh@gmail.com)          

Pada saat launching buku Retails  Rules di Jakarta, 20 Oktober 2010 lalu, memang Bob Sadino tidak bisa hadir. Namun penulisnya, Yongky Susilo dan Meshvara Kanjaya, menyebut Bob Sadino sebagai salah satu tokoh peletak dasar ritel modern di Indonesia.

Perkembangan ritel modern diawali pada tahun 1970-an. Saat itu, Gelael membuka outlet pertamanya di jalan Faletehan, Kebayoran Baru, dan Bob Sadino membuka KemChick di daerah Kemang, keduanya berada di Jakarta Selatan. Bob lalu dikenal pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick.

Sampai akhir tahun 1980-an, supermarket di Indonesia terus mengalami pertumbuhan siginifikan. Hero misalnya, pada saat itu mempunyai lebih dari 30 gerai. Gelael sempat mempunyai belasan gerai, sedangkan KemChick memilih bertahan dengan satu gerai di Kemang Raya, Jakarta Selatan.

KemChick ingin menjadikan supermarketnya destinasi bagi para ekspatriat. Karena itu, selain barang-barang untuk keperluan sehari-hari, KemChick juga menyediakan berbagai kebutuhan lain yang sesuai dengan aktivitas para ekspatriat, misalnya travel agent, took stationary, dan konter bunga segar.

Karier pengusaha

Bob Sadino bernama asli Bambang Mustari Sadino, lahir di Tanjung Karang (sekarang Bandar Lampung), 9 Maret 1933 meninggal di Jakarta 19 Januari 2015 pada umur 81 tahun, adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat santai dengan mengenakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi ciri khasnya sehari-hari.

Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia.

Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed.

Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.

Pekerjaan pertama yang dilakoni Bob Sadino setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, ia sendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah. Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi kuli bangunan dengan upah harian Rp.100.

Suatu hari, seorang teman menyarankan Bob memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik dan mulai mengembangkan usaha peternakan ayam. Ketika itu, di Indonesia, ayam kampung masih mendominasi pasar.

Bob-lah yang pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Bob menjual telur-telurnya dari pintu ke pintu. Ketika itu, telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya tersebut hanya dibeli oleh ekspatriat-ekspatriat yang tinggal di daerah Kemang, serta beberapa orang Indonesia yang pernah bekerja di luar negeri.

Namun seiring berjalannya waktu, telur ayam negeri mulai dikenal sehingga bisnis Bob semakin berkembang. Bob kemudian melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Selain memperkenalkan telur ayam negeri, ia juga merupakan orang pertama yang menggunakan perladangan sayur sistem hidroponik di Indonesia.

Catatan awal tahun 1985 menyebutkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40-50 ton daging segar, 60-70 ton daging olahan, dan sayuran segar 100 ton.

Bob Sadino dan Ritel Modern
Peluncuran Buku Retails Rules di Jakarta

Bisnis Supermarket

Menyinggung keterkaitan ekonomi negara dan bisnis supermarket, disebutkan bahwa supermarket tak sekedar memudahkan konsumen dalam memilih dan mencari barang yang dibutuhkan, plus memberikan kenyamanan berbelanja karena tempatnya bersih, kering, dengan penataan barang yang menarik.

Lebih dari itu, bisnis ritel modern telah membawa perubahan dalam cara berbelanja. Pemerintah pun tergerak untuk ikut menggiatkannya, karena bisa menggerakkan perekonomian atas investasi yang ditanam para investornya.

Tengok saja pertumbuhan bisnis ritel modern atau pasar swalayan di masa Orde Baru. Pada masa itu, seiring dengan kebijakan ekonomi, pemerintah mengundang investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Kebijakan ini tak hanya mengalirkan modal asing, tetapi juga mendatangkan para ekspatriat ke Indonesia.

Di saat yang bersamaan, konsidi ekonomi yang membaik juga membuat banyak putra-putri Indonesia menuntut ilmu ke luar negeri. Sekembalinya ke Indonesia, selain membawa ilmu, mereka juga membawa pengalaman mencari makanan atau cara berbelanja yang nyaman.

Jadi, pada dasarnya, konsumen Indonesia adalah konsumen yang sangat mencintai belanja dan menganggap belanja sebagai rekreasi. Berangkat dari pola kebiasaan itu, tumbuhkan sekarang ini beberapa supermarket baru yang berdiri sendiri.

Ide Bob Sadino membuat “pasar” sendiri, kini ditiru pemodal besar dan menjadi stimuli ekonomi Indonesia. Ide cemerlang!

*Wartawan senior dan penulis buku