BNN Surabaya Terima Study Excursion Mahasiswa Farmasi Unair

BNN Surabaya Terima Study Excursion Mahasiswa Farmasi Unair

Kepala BNN Kota Surabaya AKBP Suparti menjelaskan kinerja lembaga pemberantasan narkotika yang dipimpinnya kepada mahasiswa Fakultas Farmasi Unair, Rabu (18/1/2017). Foto:sandhi nurhartanto/enciety.co

Sebanyak 50 mahasiswa semester V Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair) melakukan study excursion, Rabu (18/1/2017). Mereka melakukan kunjungan kepada 2 lembaga yaitu Badan  Pengawas Obat dan Makanan dan Badan Narkotika Nasional (BNN) kota Surabaya.

Riyantita Tunjung S, ketua acara study excursion Fakultas Farmasi Unair, mengatakan kedatangan mereka untuk mengetahui segala jenis obat yang ada.

“Mulai dari golongan obat bebas, obat terbatas termasuk narkotika. Kami harus mengetahui dan memperdalam agar ketika lulus nanti dapat mengetahui kinerja obat yang ada misalnya apoteker,” kata Riyantita Tunjung S.

Untuk kedatangan di BNN kota Surabaya, dirinya baru mengetahui jika fakultas farmasi diperlukan untuk kinerja menindak pemberantasan narkoba.

“BNN ternyata bukan hanya memerlukan penegak hukum saja. Tetapi ternyata dokter dan apoteker diperlukan disini untuk mengetahui banyaknya obat berbahaya yang beredar,” ujarnya.

Dosen fakultas farmasi Unair, Chrismawan Ardianto mengatakan pihaknya mengajak mahasiswanya agar lebih dekat dan mengetahui kinerja BNN kota Surabaya.

“Nantinya setelah lulus, pekerjaan mereka selanjutnya akan berdekatan dengan obat golongan narkotika,” kata Chrismawan.

Ia berharap, agar lulusan farmasi Unair juga ikut menanggulangi obat-obatanan yang dijadikan narkotika maupun prekusor.

Kepala BNN kota Surabaya AKBP Suparti saat menerima kunjungan tersebut memaparkan profile lembaga yang menanggulangi dan memberantas narkotika tersebut.

Perwira dengan dua melati di pundak tersebut juga menyampaikan visi misi dan semua kegiatan yang sudah dilaksanakan.

“Obat golongan G banyak dijual di apotik. Kami harap Unair dan kami (BNN Surabaya red) ada MOU tentang obat dan laboratorium. Karena kini banyak narkotika yang sintetis ditemukan. Diharapkan juga agar mahasiswa farmasi menambah penelitian tentang obat,” kata AKBP Suparti sambil menyebutkan jika di UU ada 18 jenis narkotika yang beredar di Indonesia. (wh)