BNN Surabaya: Rehabilitasi Pecandu Narkoba setelah Asesmen

BNN Surabaya: Rehabilitasi Pecandu Narkoba setelah Asesmen

AKBP Suparti bersama volunteer narkoba BNN Kota Surabaya.

Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surabaya melakukan proses rehabilitasi terhadap para pengguna baik yang tertangkap atau melaporkan sendiri usai melakukan asesmen.

“Bersama Pemerintah Kota Surabaya menerapkan Tim Asesmen Terpadu (TAT) untuk menangani pengguna narkoba,” kata Kepala BNN Kota Surabaya AKBP Suparti, Kamia (13/4/2017).

TAT tersebut selain dari BNN Kota Surabaya terdiri dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, Kum HAM, kejaksaan baik Surabaya dan Perak serta kepolisian.

“Dengan melakukan asesmen, tim TAT ini berupaya melakukan penggalian informasi dan data. Dengan tujuan untuk memberikan terapi yang pas. Apakah pengguna narkoba tersebut dirawat inap atau lainnya,” kata AKBP Suparti,.

Selain itu, dengan asesmen dapat mengetahui keterlibatan para pengguna narkoba tersebut apakah hanya coba pakai atau teratur pakai. Dengan mengetahui coba pakai dan teratur pakai maka dapat ditentukan penanganan kelanjutannya.

“Contohnya bila ada siswa sekolah terkena atau tertangkap menjadi pengguna narkoba, dengan penerapan ini yang bersangkutan maka kalau bisa tetap bisa sekolah tanpa terhenti,” kata dr Singgih Widipratomo menambahkan.

Selain melakukan asesmen, di BNN kota Surabaya sendiri juga melakukan rehabilitasi bila diketahui pengguna narkoba tersebut menjadi pecandu. Program rehabilitasi narkoba ini sendiri didapat dari pasien hasil operasi tangkap tangan dan volunteer (sukarelawan) narkotika. Mereka akan dibawa ke rehab swasta komponen masyarakat (KM) yang ada di kota Surabaya. KM tersebut diantaranya Orbit, Plato dan rumah Bambu.

Selain itu, rehabilitasi narkoba juga diberikan kepada para pengguna yang mengalami tingkat ketergantungan tinggi kepada beberapa rumah sakit yang ada di kota Surabaya dan luar Kota Pahlawan.

“Rumah sakit sebagai jujukan tempat rehabilitasi kami adalah RSAL, dr Soetomo dan RS Jiwa Menur. Juga ada rehabilitasi luar kota yaitu di Malang dan Lawang. Bila tidak mumpuni dibawa ke Lido Bogor,” ujarnya.

Ia melanjutkan, dari data yang ada, di bulan Januari sampai April di tahun 2017 ini tercatat ada 60 klien yang melakukan rehabilitasi dan 55 klien yang diawasi tim TAT.

“Sedangkan di tahun 2016 lalu tercatat ada 211 klien TAT dan 364 klien yang direhabilitasi terdiri dari umur di bawah 18 tahun sebanyak 205 orang sisanya diatas umur 18 tahun,” katanya. (wh)