BNN : Pengguna Narkoba Tidak Bisa Dikriminalkan

BNN : Pengguna Narkoba Tidak Bisa Dikriminalkan
Anang Iskandar bersama Kresnayaya Yahya.

Rehabilitasi dan tidak perlu dipenjara. Itulah perlakuan yang tepat ketika para pengguna atau pemakai narkoba yang setiap tahunnya meningkat di Indonesia.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Anang Iskandar menegaskan pihaknya ingin memberlakukan pengguna narkoba yang tertangkap atau melapor adalah rehabitisasi, bukan dihukum penjara.

“Negara menjamin rehabilitasi. Sesuai dengan Pasal 4 UU Narkotika Nomor 35 tahun 2009. Pengguna narkoba tidak bisa dikriminalkan,” tegas Komjen Anang Iskandar dalam Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (17/10/2014).

Menurut dia, berdasarkan undang-undang tersebut untuk tersangka yang tertangkap membawa pil ekstasi di bawah 8 butir dan sabu-sabu di bawah 5 gram disebut sebagai pengguna.

“Baik penyidik BNN dan penyidik dari kepolisian tidak boleh menahan tersangka ini,” ujar Anang.

Kata dia, rehabilitasi harus dijalankan secara serius. Karena penjara membuat penyalahguna dan pecandu akan lebih pintar lagi menjadi pengedar dan bandar. Mereka akan belajar kepada para terdakwa yang ditahan di rumah tahanan ataupun lapas.

Untuk pelapor, jendral berbintang satu tersebut berjanji akan memberikan hadiah. “Yang lapor diberi hadiah tidak dituntut pidana baik keluarganya yang jadi pecandu atau pelapor sendiri,” tandasnya.

Pecandu atau pengguna narkoba adalah korban. Kalau tidak mau lapor maka akan ditangkap oleh BNN dan Polri sendiri. Orang tua harus lebih keras dan paham agar mengobati dan rehabilitasi sendiri terhadap anaknya yang kecanduan itu lebih hebat.

“Orang tua harus tega. Rehab tidak harus medis saja. Rehab juga sosial dan cara pikirnya. Akan bisa sembuh 100 persen,” pungkasnya.

Chairperson Enciety Consult Business Kresnayana Yahya mengatakan setiap 1 orang yang mengalami kecanduan dihitung Rp 300-400 juta per rehabilitasi oleh negara. Tahun ini saja ada 4,2 juta pengguna narkoba dan 3 persennya adalah pelajar sisanya orang kaya.

“Di usia produktif membuat bisnis dan perekonomian terganggu. Secara sederhana negara ini rugi dengan memberikan uang kepada 4 juta orang yang berpotensi habiskan uang negara dan keluarga,” kata Kresnayana Yahya.

Menurut dia nya mencegah jauh lebih penting daripada merusak diri sendiri dan keluarga. Satu orang pecandu bisa mengubah keluarga yang dulunya kaya jadi miskin. Ia menuturkan agar remaja diberi kesibukan dan diberi penyuluhan secara intens di sekolah.

“Mulai SD, SMP dan SMA berdasarkan UU harus ada kurikulum tentang narkoba,” tuturnya. (wh)