BNI Wilayah Surabaya Fokus Garap Tabungan dan Giro

BNI Wilayah Surabaya Fokus Garap Tabungan dan Giro

PT Bank BNI Tbk Kantor Wilayah Surabaya berusaha menggenjot dana pihak ketiga (DPK) melalui tabungan dan giro. Berdasarkan laporan kinerja kuartal kedua atau semester pertama tahun ini cukup memuaskan, dimana secara keseluruhan tercapai sekitar 21 persen.

CEO BNI Kantor Wilayah Surabaya Dasuki Amzir kepada wartawan, Selasa (12/8/2014), menyebutkan upaya yang dikejar untuk giro dan tabungan ini melalui sejumlah komunitas. Sebab DPK untuk deposito telah melampaui target, dengan pertumbuhan 21,5 persen atau setara Rp8,6 triliun.

“Terus terang capaian deposito semester pertama tahun ini sudah cukup, bahkan sudah melampaui. Pada semester kedua yang tengah kita kejar adalah peningkatan tabungan dan giro,” jelasnya disela-sela Halal Bihalal di Hotel Bumi, Surabaya.

Sejumlah strategi yang tengah disampaikan Dasuki adalah memasuki sejumlah komunitas. Seperti komunitas pendidikan, mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Jumlah komunitas ini dianggap memiliki potensi yang cukup besar untuk meningkatkan DPK melalui tabungan dan giro.

Berdasakan laporan kinerja BNI Wilayah Surabaya hingga semester pertama tahun ini, untuk tabungan mencapai Rp 12,8 triliun atau naik sekitar 5,2 persen dibanding kinerja periode yang sama tahun lalu. Sedangkan Giro pada posisi Rp 5,6 triliun atau naik 29,7 persen, dan deposito Rp8,6 triliun atau naik sekitar 21 persen. Bahkan deposito ini target akhir tahun telah tercapai disemester pertama.

Sementara untuk pertumbuhan kredit tahun ini tumbuh sekitar 30,5 persen atau setara dengan Rp 29,4 triliun. “Untuk kredit korporasi telah ditentukan oleh kantor pusat, sedangkan untuk middle and small diserahkan ke daerah, sesuai dengan pertumbuhan daerah tersebut,” ungkapnya.

Pertumbuhan kredit untuk middle and small di Wilayah Surabaya sendiri tumbuh sekitar 21 persen atau setara dengan Rp10,8 triliun pada semester pertama. Sementara target hingga akhir tahun diharapkan bisa tercapai Rp 11,7 triliun.

Bila melihat pertumbuhan sepanjang semester pertama tahun ini, Dasuki tidak menampik terjadi pelambatan. “Memang tahun ini merupakan tahun politik, dan masih banyak yang menahan dana. Diantaranya mengalihkan investasi kebentuk lain seperti saham, emas, dan obligasi,” tutupnya.

Dia optimistis pada kuartal terakhir pertumbuhan ekonomi akan membaik, seiring dengan terbentuknya susunan pemerintahan yang baru. (wh)