BMKG: Waspadai Gelombang Tinggi Laut Jawa

BMKG: Waspadai Gelombang Tinggi Laut Jawa
foto: bijaks.net

Masyarakat pelayaran mewaspadai potensi terjadinya gelombang tinggi di perairan Laut Jawa hingga dua hari ke depan yang bisa mencapai empat meter. Hal itu diungkapkan Staf Informasi dan Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak Surabaya Eko Prasetyo.

“Harap waspada, karena besok dan besok lusa gelombang perairan Laut Jawa berkisar 3-4 meter, sedangkan angin cenderung kencang, kontinyu dan durasinya lama. Kecepatan angin diperkirakan mencapai 55 kilometer per jam atau 30 knot,” kata Eko Prasetyo, Rabu (30/9/2015).

Sedangkan di perairan Samudera Hindia, katanya, meskipun sedikit lebih rendah tapi juga cukup berbahaya untuk aktivitas kapal  nelayan dan kapal kecil. Tinggi gelombang di Samudera Hindia dalam dua hari ke depan berkisar 3-3,5 meter, sedangkan kecepatan angin sekitar 45 kilometer per jam.

“Tingginya gelombang ini bisa berpengaruh terhadap aktivitas penyeberangan, seperti  penyeberangan Padangbai (Bali – Lembar  (Lombok) yang gelombangnya sekitar 2,5 meter dan penyeberangan Ketapang (Banyuwangi) – Gilimanuk (Bali)  berskisar 2,5-3 meter,” terang Eko.

Menyinggung cuaca Jatim dan sekitarnya, Eko menjelaskan bahwa suhu udara di Surabaya dan Jatim belakangan cenderung panas dampak terjadinya pergerakan semu matahari dari belahan bumi utara ke selatan.

“Puncaknya diprakirakan akan terjadi pada 23 Oktober mendatang dengan suhu udara bisa mencapai 36 derajat Celcius,” ujar dia.

Lebih lanjut Eko mengemukakan, Jatim akan mengalami masa peralihan atau masa pancaroba pada Oktober-November, sedangkan musim hujan diprakirakan baru akan terjadi pada akhir November hingga awal Desember mendatang.

Kendati demikian, semakin dekat masa peralihan,  guyuran hujan diprakirakan akan mulai terjadi di sejumlah daerah. “Curah hujan pada masa peralihan akan semakin tinggi meskipun sifatnya sporadis, tidak merata dan hanya sebentar, hingga akhirnya masuk musim hujan,” paparnya.

Eko juga mengingatkan, pada masa pancaroba biasanya dibarengi dengan angin yang bertiup cukup kencang sehingga bisa berpotensi menimbulkan bencana. (ant/wh)