BKPPM Surabaya Imbau Masyarakat Waspada Investasi Bodong

BKPPM Surabaya Imbau Masyarakat Waspada Investasi Bodong
Kepala BKPPM Surabaya Eko Agus Supiadi.

Maraknya modus penipuan investasi bodong membuat Pemerintah Kota  Surabaya segera bertindak cepat. Kepala Badan Koordinasi Pelayanan dan Penanaman Modal (BKPPM) Surabaya Eko Agus Supiadi memberikan sosialisasi pada masyarakat pentingnya mengetahui investasi secara legal.

“Kami terus rutin memberikan sosialisasi kepada masyarakat pentingnya pengetahuan tentang bisnis investasi,” ujarnya kepada enciety.co, Selasa (2/9/2014).

Selain itu,terang Agus, BKPPM  juga melakukan imbauan agar masyarakat tidak melakukan tindakan melawan hukum dengan menghimpun dana masyarakat atas nama investasi tanpa memiliki izin.

“Kami tidak pernah mempersulit masuknya investor ke Surabaya. Tapi kalau tindakan investasi yang melawan hukum, tentunya itu dilarang,” ujarnya.

Pihaknya juga mengingatkan masyarakat agar waspada dan berhati-hati terhadap tawaran penanaman dana yang dilakukan oleh pihak tertentu secara ilegal. “Apalagi disertai janji-janji pengembalian investasi yang sangat tinggi di luar kewajaran,” tambahnya.

Untuk menggiatkan sosialisasi bahaya investasi bodong, BKPPM Surabaya melakukkan sosialisasi melalui public expose, penyebaran brosur hingga melakukan seminar tentang pengelolahan investasi yang legal.

“Melalui seminar, kami memberikan edukasi terkait investasi dan penghimpunan dana secara ilegal. Dengan seminar pelaku industri keuangan bersama masyarakat umum dapat lebih memahami dan mampu membedakan antara program pengelolaan investasi dan penghimpunan dana yang legal dengan yang ilegal,” urainya.

Untuk diketahui, banyak masyarakat tertipu investasi bodong dengan iming-iming mendapat uang melimpah. Seperti yang terakhir,  Polda Jatim membekuk jajaran pimpinan PT Raya Prima Wibawa, Senin (1/9/2014), setelah melakukan penipuan kepada ratusana nasabah. Para nasabah diiming-imingi bunga investasi hingga 50 persen. Kerugian dari investasi bodong tersebut ditaksir mencapai Rp 8 miliar. (wh)