BKKBN Prihatin Kampanye KB Mati Suri

BKKBN Prihatin Kampanye KB Mati Suri
Sofyan Rizalanda, Solekhan Syakur dan Kresnayana Yahya

 

Meledaknya pertumbuhan penduduk di Indonesia yang tidak terkendali membuat kekhawatiran tersendiri. Pasalnya, saat ini  jumlah penduduk Indonesia mencapai 255 juta jiwa dan 40 juta jiwa di antaranya berada di Jatim.

Widyaiswara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jatim Solekhan Syakur mengatakan, pertumbuhan penduduk yang cukup pesat belakangan ini karena kurang pedulinya masyarakat dan pemerintah tentang Keluarga Berencana (KB)

“Dulu, waktu zaman Pak Harto begitu gencarnya program KB, sedang di masa reformasi ini terlihat mati suri,” katanya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (14/3/2014).

Menurut dia, apabila sebuah keluarga memiliki banyak anak, maka kesejahteraan keluarga secara ekonomi hingga pendidikan dapat menurun secara kualitas.

Namun, tutur dia, hal itu juga bergantung dari masyarakat sendiri. Karena banyak warga menganggap KB itu membatasi anak berarti membatasi hak hidup. “Masyarakat beranggapan berapa pun anak itu adalah hak mereka sendiri,” ujarnya.

Dr Sofyan Rizalanda, Kasi Pelayanan KB jalur Pemerintah dan Swasta BKKBN Jatim, mengatakan sebenarnya masyarakat menerima bahwa KB itu diperlukan. “98 persen tahu tentang KB mulai tujuan dan manfaatnya,” katanya.

Sayangnya, imbuh dia, penilaian keluarga muda bahwa KB merupakan hambatan tersendiri. Mulai dari hambatan keluarga seperti dari istri yang tidak mengizinkan suaminya ikut KB ataupun sebaliknya. “Kami mencoba memberikan wacana bahwa KB sangat diperlukan,” ujarnya.

Kini, pihaknya menekankan konsep di huruf “B” nya, yaitu Berencana. Juga
sisi kesehatan kematian ibu akan mendominasi naik bila tidak direncanakan kehamilan. “Mulai rencanakan jumlah anak dan semuanya agar terkendali,” ucapnya.

Sementara itu Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya mengatakan. pada tahun 2001-2002, terjadi kenaikan jumlah penduduk yang cukup signifikan. “Tahun 2030 bila tidak diurus dengan baik, maka kesejahteraan akan turun,” kata Kresna.

Kata dia, bila program KB tidak jalan maka kemiskinan bertambah dan menurunnya kesejahteraan akibat bertambahnya penduduk. “Bila direncanakan kita dapat mencegah bayi lahir, maka perkonomian akan meningkat,” ujarnya. (wh)