Bisnis Katering, Supiyah Biayai Kuliah Anak dan Pergi Umrah

Bisnis Katering, Supiyah Biayai Kuliah Anak dan Pergi Umrah

Supiyah pamerkan trofi Pahlawan Ekonomi Award.foto:arya wiraraja/enciety.co

Supiyah merapat di meja konsultasi, siang itu. Setelah pelatihan digital marketing Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda yang digelar di Hotel Palm Park. Supiyah menanyakan cara mengisi link survei di WA-nya yang dikirim Dinas Perdagangan. Ada 35 pertanyaan yang harus diisi. Semuanya terkait dengan usaha yang dijalani.

Satu demi satu pertanyaan lalu dijawab dia. Dari awal merintis usaha, omzet, prroduk unggulan, varian menu yang dijual, jumlah pegawai, dan masih banyak lagi. Supiyah girang akhirnya bisa menyelesaikan sampai pertanyaan terakhir.

Supiyah, perempuan pelaku usaha yang tinggal di Pabean Cantikan, Surabaya. Dia membuka bisnis katering dan jualan di Pasar Krempyeng Bongkaran.

“Menunya macem-macem. Ada soto, rawon, nasi rames, nasi pecal kare ayam. Banyak lah,” ujar owner Fajar Catering itu.

Supiyah membuka usaha sejak lama. Sekira 40 tahun lalu. Usahanya untuk  mencukupi kebutuhan keluarga dan membiayai sekolah anak-anaknya.  Supiyah punya harapan jika anak-anaknya harus mengenyam pendidikan hingga lulus perguruan tinggi.

Supiyah lalu menceritakan saat dirinya harus banting tulang membiayai anaknya sendirian. Ini lantaran suaminya, Jailani, sudah almarhum. Waktu itu, anak sulungnya, Arif Eriawan, berniat melanjutkan kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel (Saat itu bernamaa Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, red).

Selain itu, Supiyah juga menghadapi cobaan. Putra keduanya, Bilal Syafrudin, sakit radang selaput otak yang mengharuskan rutin minum obat dan rawat jalan.

Perempuan Lamongan, 22 November 1951itu, tak patah arang. Berbagai uoaya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dari jualan di pasar hingga menerima pesanan nasi kotak. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan. Sedikit demi sedikit urusan sekolah dan kuliah anaknya bisa diatasi.

“Alhamdulillah, tiga anak saya sudah lulus perguruan tinggi,” ujar dia, bangga.

Ketiga anaknya itu, Arif Eriawan (lulusan UIN Sunan Ampel), Choirul Akbar, (lulusan ITATS Teknik Kimia), dan Devi Maghdalena (lulusan UPN Jurusan Akutansi).

Tahun 2001, Supiyah sempat berhenti jualan di pasar. Ini dikarenakan dua orang anaknya menikah dan anak terakhir lulus kuliah. Supiyah berjualan jika ada pesanan saja.Bisnis Katering, Supiyah Biayai Kuliah Anak dan Pergi Umrah

“Ya, kalau ada kawan, langganan, atau tetangga yang pesan, baru saya jualan. Waktu itu, saya berpikir jualan untuk ngisi waktu luang di hari tua. Ya, karena anak-anak saya sudah menikah dan lulus kuliah. Sedangkan pengobatan anak saya nomor dua sudah dibantu saudara-saudaranya,” tutur dia.

Omzet Rp 35 Juta Sebulan

Pada tahun 2012, Supiyah ikut program Permakanan Pemerintah Kota Surabaya. Program yang digagas Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ini, diperuntukkan bagi lansia, anak yatim, dan penyandang disabilitas agar lebih sejahtera.

“Saya aktif di Karang Werdha. Saya menyediakan makanan untuk program permakanan itu sampai saat ini,” tutur dia.

Kolom pendapatan Supiyah makin membesar. Dia bisa mewujudkan cita-citanya pergi ke Tanah Suci. Dia berangkat umrah, tahun 2014.

“Saya berterima kasih kepada Bu Risma. Berkat beliau, usaha saya jalan lagi. Yang paling penting, saya bisa mewujudkan keinginan yang selama ini saya impikan,” ujar Supiyah, lantas tersenyum.

Pada Januari 2017, Supiyah diajak gabung Pahlawan Ekonomi. Program pemberdayaan perempuan yang juga digagas Wali Kota Risma. Ceritanya, Supiyah terpilih ikut road show di kecamatan tempat tinggalnya. Setelah itu, ia ikut pelatihan di Kaza City Mall.

Setelah rutin ikut pelatihan, Supiyah mendapat pengatahuan dan pengalaman baru. Belajar manajemen keuangan, jualan online, dan lain sebagainya . Khususnya pelatihan teknis kuliner, dia bisa terapkan untuk memerbaiki produknya. Makanan tradisional andalannya lebih lezat. Kemasannya juga lebih oke.

Supiyah mengaku jualan makanan dari Rp 20 ribu sampai Rp 35 ribu per paket. Dalam sebulan, Supiyah dapat mengumpulkan omzet sekitar Rp 35 juta.

“Ada dua orang ikut membantu saya memenuhi pesanan dan jualan di pasar,” katanya .

Tahun lalu, Supiyah juga mendapat berkah. Dia dinobatkan sebagai Juara 1 Pahlawan Ekonomi & Pejuang Muda Surabaya Award 2019 Kategori Culinary Business.

“Jika Tuhan berkehendak, rasanya rezeki itu datangnya mengalir. Ada saja pesanan itu setiap bulan. Baik dari online maupun dari mulut ke mulut. Ya saya cuma bisa bilang alhamdulilah,” tutupnya. (wh)