Bisakah Kita Membuat Gading Sintetis?

Bisakah Kita Membuat Gading Sintetis?

Gigi palsu sudah biasa kita dengar digunakan manusia. Tapi bagaimana dengan gading sintetis untuk gajah? Apakah kemajuan bioteknologi gigi manusia memungkinkan untuk diterapkan pada hewan? Atau lebih jauh lagi, yakni supaya mencegah pasar gelap perdagangan taring, cula, maupun gading hewan oleh orang-orang tak bertanggung jawab?

Kontributor National Geographic Liz Langley membantu menjawab teka-teki tersebut. “Mengenai teknologi pada gading, kami diemail Paul Sharpe , Dickinson, seorang Profesor Craniofacial Biologi di King’s College London, Inggris,” katanya. Prof Sharpe, kata Langley, baru-baru ini membantu mengembangkan metode untuk mengganti gigi dengan sel dari gusinya sendiri.

Sharpe menjelaskan, gading gajah merupakan gigi modifikasi. Gigi ini mengandung jaringan yang dimineralisasi, dentin, serta enamel. Secara teoritis, menumbuhkan gigi atau taring merupakan sesuatu yang mungkin dilakukan. “Melakukan penelitian gigi tiruan dari laboratorium sangat mungkin jika sel-sel yang tepat dapat diperoleh,” tutur Sharpe dalam emailnya.

Namun Sharpe mengingatkan, sama seperti organ-organ lainnya, ukuran gigi atau gading tersebut ditentukan oleh waktu. “Untuk menumbuhkan gading, bahkan gading dengan ukuran kecil sekalipun, tidak mungkin di laboratorium. Karena peningkatan ukuran memerlukan tambahan nutrisi dan oksigen, yang biasanya disediakan oleh aliran darah,” paparnya.

Sedangkan cula badak, sangat berbeda dibandingkan gading gajah. Cula terbuat dari keratin, seperti kuku manusia, kuku kuda, dan duri landak . “Karena konsumen cula badak di Asia biasanya menggunakannya sebagai bubuk obat, bentuk lain dari keratin dapat digunakan sebagai pengganti bubuk,” ungkapnya.

Tetapi beberapa ahli konservasi berpendapat lain. Mereka menyebut, gading maupun cula sintetis tak akan menyelesaikan masalah yang lebih serius daripada perdagangan satwa liar.

“Apakah sintetis dapat diproduksi atau tidak, kita tetap tidak setuju dengan ide menggunakan cula badak sebagai obat,” seru Kathleen Garrigan dari Yayasan African Wildlife. Dalam emailnya, Garrigan mengatakan bahwa cula badak belum terbukti memiliki kekuatan kuratif. Alias, belum terbukti manjur.(wh)