Biro Travel China Batalkan Kerjasama dengan Malaysia Airlines

Biro Travel China Batalkan Kerjasama dengan Malaysia Airlines

 

Malaysia mulai merasakan dampak dari hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370. Salah satu operator perjalanan wisata terbesar China memutuskan hubungan kerja sama dengan Malaysia Airlines dan menyatakan pihaknya akan membatalkan seluruh penerbangan yang sudah direncanakan dengan maskapai tersebut.

“Mempertimbangkan fakta kecelakaan yang terjadi dan kekhawatiran para turis China atas catatan keselamatan Malaysia Airlines, maka kami harus memenuhi tanggung jawab demi keselamatan warga kami,” menurut pernyataan Youth Travel Service yang berbasis di Beijing, Rabu (26/3/2014) waktu setempat.

Pemesanan untuk perjalanan yang ada saat ini akan dibatalkan dan penggunaan pesawat Malaysia Airlines akan diganti dengan pesawat lain. Agen perjalanan wisata itu juga berjanji untuk mengembalikan uang pelanggan yang sudah terlanjur disetor untuk terbang dengan Malaysia Airlines.

Biro perjalanan wisata besar lainnya, China International Travel Servicee, mencatat penurunan tajam atas pelanggan yang akan melakukan perjalanan wisata ke Malaysia sebagaimana dikutip AsiaOne.com, Kamis (27/3/2014).

Selain itu, Malaysia Airlines juga tengah menghadapi tuntutan hukum dari keluarga para  penumpang yang jadi korban.  Mereka mengajukan tuntutan sebesar 4,95 miliar ringgit kepada Malaysia Airlines dan produsen pesawat Boeing.

Salah satu firma hokum Ribbeck Law Chartered yang bermarkas di Chicago akan mewakili para keluarga dalam pengajuan tuntutan tersebut. Mereka juga sudah mengarsipkan petisi dalam sebuah pengadilan di Chicago.

Kepala pengacara dalam firma hukum tersebut Monica Kelly mengatakan perusahaannya memang spesialis dalam menangani kasus hukum penerbangan. Dan dia mengakui sudah beberapa kali bertemu dengan anggota keluarga penumpang dari China dan Indonesia.

Dalam pesawat yang membawa 239 orang itu, sebanyak 153 orang berwarga Negara China, 50 orang dari Malaysia dan tujuh dari Indonesia.

Kelly mengaku mereka telah berbicara dengan anggota keluarga dari banyak Negara dan berharap sebagian dari mereka ikut serta dalam tuntutan tersebut.

“Kami telah menangani banyak kasus kecelakaan yang rusak, atau bahkan mayat tidak ditemukan, juga pesawat puing ditemukan namun tidak ada kotak hitam. Kami tidak akan memulai tuntutan hanya berdasarkan hal itu saja,” ujarnya.

Dia menjelaskan proses tuntutan itu bisa berjalan lamban atau cepat, namun dia berharap kasus ini bisa selesai dalam 1,5 tahun hingga dua tahun. (ram)