Bikin Roti Instan, Mahasiswa ITS Juarai Entrepreneur Creative Challange

Bikin Roti Instan, Mahasiswa ITS Juarai Entrepreneur Creative Challange

ITS kembali menelurkan jawara dalam kompetisi bisnis nasional, Entrepreneur Creative Challange (Eureca). Kali ini, giliran Jurusan Manajemen Bisnis ITS yang berhasil memboyong pulang tiga gelar juara sekaligus, yakni juara satu, juara dua, dan the best speaker.

Tim Tinytwist besutan tiga mahasiswa ini berhasil meraih posisi pertama dalam kompetisi yang diadakan oleh Prasetiya Mulya Business School BSD ini. Mereka adalah Wieka Galih Wisudaningtyas, Nadya Nurul Fitria Prasetyo, dan Isny Gita Amelia. Dikatakan Wieka, ini merupakan kompetisi bisnis pertama yang berhasil mereka juarai.

“Sebelumnya, kami pernah mengikuti beberapa kompetisi serupa. Namun, tim kami selalu gagal untuk mesuk ke babak semifinal,” ungkap dia seperti dilansir di laman www.its.ac.id.

Menjadi juara pertama dalam suatu kompetisi tidaklah mudah. Dibutuhkan kerja keras dan semangat yang tinggi. Selama kurang lebih tujuh hari, tim Tinytwist ini harus berkerja keras menggarap proposal.

“Berulang kali kami melakukan asistensi kepada dosen pembimbing mengenai kelayakan proposal,” jelas dia.

Perjuangan tim Tinytwist pun tak sia-sia, produk Instant Cake Mix andalan mereka berhasil maju kebabak final. Diungkapkan Wieka, ide pembuatan Instant Cake Mix ini berawal dari kegemaran mereka membuat kue.

Namun, berulang kali dalam percobaannya Wieka dan tim selalu gagal. Tujuan pembuatan produk ini ialah untuk memberikan kemudahan bagi pemula yang ingin membuat roti.

“Dengan adanya produk ini para pecinta roti tidak perlu takut untuk mencoba membuat,” tuturnya.

Tidak hanya itu saja, Wieka juga membeberkan beberapa kelebihan dari produk buatannya ini. Diantaranya, produk ini cukup praktis karena dapat dibuat hanya dalam waktu satu menit saja. Selain itu, Instant Cake Mix ini juga memiliki tiga varian rasa yaitu Sunny Honey, Dreamy Berry, dan Choco Freeze. “Rasa khas Surabaya yang kami tawarkan menjadi ciri utama produk kami,” cetusnya.

Dalam babak final, Wieka sempat ragu bisa menjuarai kompetisi ini. Pasalnya, ide bisnis milik tim lawan menurutnya lebih kreatif dan inovatif. Keraguan itu pun langsung ditepis oleh Wieka. Baginya berusaha secara maksimal meskipun hasil akhir tidak sesuai harapan jauh lebih penting.

Presentasi produk dan demo masak yang diperagakan oleh Wieka dan timnya pun berhasil mengundang decak kagum dewan juri saat itu. Hampir seluruh dewan juri merasa terkejut ketika Wieka dan tim berhasil membuat roti hanya dalam waktu satu menit. Bukan hanya itu saja, rasa yang enak dan khas dari produk buatan tiga mahasiswa ini mampu mendapat nilai lebih dari dewan juri. Tak ayal, keyakinan tim Tinytwist pun meningkat.

Tim Tinytwist sempat tidak percaya, ketika nama mereka disebutkan sebagai juara pertama. Menjuarai kompetisi bisnis nasional, tidak pernah dibayangkan oleh tim ini sebelumnya. Kedepannya, mereka akan menganalisa lebih lanjut produk buatannya ini. Selain itu, modifikasi terhadap produk juga akan dilakukan. Bahkan, ke depannya mereka ingin memasarkan produknya di wilayah ASEAN. “Menjual produk ini di pasar ASEAN akan menjadi keuntungan bagi kita,” tuturnya.

Wieka sempat membagi tips dan trik menjuarai lomba Business Plan. Menurutnya, terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan untuk sukses dalam kompetisi seperti ini. Di antaranya keorisinalan dan kebermanfaatan ide bisnis untuk masyarakat. Selain itu, visibilitas bisnis dan kelayakan ide yang diajukan turut menjadi poin tersendiri.

Ia pun menambahkan, selama ini banyak mahasiswa khususnya ITS yang sering menomorduakan bimbingan ke dosen pembimbing. Padahal, pembimbingan ini merupakan salah satu faktor penting dari keberhasilan. “Dari pembimbingan tersebut kita mengetahui kekurangan apa saja yang ada di ide, proposal, maupun produk yang akan kita buat,” terangnya.

Diakhir, Wieka berharap agar kedepannya lebih banyak mahasiswa ITS yang dapat berkontribusi dalam kompetisi bisnis lainnya. “Salah satu cara memupuk jiwa entrepreneur kita adalah dengan mengikuti kompesiti bisnis. Namun yang harus diingat, berorientasilah pada proses jangan melulu pada hasil,” pungkasnya. (wh)