Bikin Inovasi dengan Dukungan Research Design

Bikin Inovasi dengan Dukungan Research Design

Kresnayana Yahya, narasumber Marketing Analysis Training, di Hotel Santika Premiere Surabaya, Kamis (11/10/2018).foto:arya wiraraja

Persaingan usaha yang makin ketat membutuhkan banyak inovasi. Salah satu cara yang dapat ditempuh dengan melakukan research. Kegiatan ini untuk memperoleh, menganalisis, dan menginterpretasi data untuk merancang strategi pemasaran.

Hal itu disampaikan Chaiperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam Marketing Analysis Training di Hotel Santika Premiere, Jalan Raya Gubeng, Surabaya, Kamis (11/10/2018).

Kata Kresnayana, terkadang penemuan besar muncul dari research untuk hal-hal yang kecil. Seperti ditemukannya obat penicillin yang bekerja dengan membunuh bakteri penyebab infeksi.

“Awal ditemukannya obat ini (penicillin) diawali dengan research obat untuk membunuh jamur. Dengan research tersebut, akhirnya dunia kedokteran makin berkembang dan maju,” ulas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Untuk memulai research, terang Kresnayana, perusahaan wajib menjalankan metode research design. Ada tiga poin yang perlu dipahami, yakni korelasi linier, asosiasi, dan cause effect.

“Tiga poin itu berhubungan erat. Namun agar bisa memahaminya, kita wajib membedahnya satu per satu,” tutut dia.

Terkait korelasi linier, jelas Kresnayana, adalah segala sesuatu yang ada pasti memiliki benang merah atau sejalan. Contohnya, jika di suatu daerah memiliki banyak populasi unggas, di sana pasti banyak individu yang tinggal.

“Contoh ini menggambarkan prinsip sejalan. Namun perlu digarisbawahi, pada prinsip linier ini sangat berbeda dengan prinsip sebab akibat,” papar dia.

Pada prinsip asosiasi, Kresnayana mencontohkan keterkaitan momen bulan Ramadan dengan naiknya penjualan sarung dan peci. “Jika kita memasuki bulan Ramadan yang ada di benak kita pasti hal-hal yang berkaitan dengan simbol-simbol keagaman. Ini menggambarkan para perusahaan tersebut berhasil memanfaatkan prinsip asosiasi bagi brand atau produknya,” ujar dia.

Poin terakhir, kata Kresnayana, adaah cause effect atau keterkaitan sebab akibat. Hal itu digambarkan seperti penjual sendal jepit. Ada dua penjual sandal jepit. Tipe pertama, penjual yang yakin jika produknya bakal laku jika pasar telah terbiasa dengan produk sandal jepit. Tipe kedua, penjual sandal jepit optimistis berjualan produknya meski pasar belum mengenal produknya.

Kata Kresnanya, kedua tipe penjual tersebut tidak ada yang salah dan benar. Namun perlu dipahami jika banyak orang merumuskan hasil penelitian yang kurang tepat karena data yang didapatkan salah.

“Untuk itu, perusahaan harus memahami ketiga poin tersebut sebelum merumuskan hasil penelitian yang akan digunakan sebagai strategi pemasaran. Teliti dan terus mencoba agar kita sukses menjadi marketer sejati,” paparnya. (wh)

Berikan komentar disini