Bidik Pasar Menengah Atas, Gelar Pelatihan Pendalaman

Bidik Pasar Menengah Atas, Gelar Pelatihan Pendalaman
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat memberi pengarahan pentingnya meningkatkan kualitas produk dan mengambil pasar menengah ke atas di Kaza City Surabaya, Minggu (23/11/2014).

Tidak hanya sekedar bisa berkarya, pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Pahlawan Ekonomi (PE) Surabaya ditargetkan bisa meningkatkan kualitas dan masuk pada menengah ke atas. Karena itu, Minggu (23/11/2014), sedikitnya 50 ibu rumah tangga Pahlawan Ekonomi mengikuti pelatihan pendalaman untuk lima jenis kerajinan selama tiga hari berturut-turut di Kaza City Surabaya.

Pelatihan pendalaman ini ditujukan kepada ibu rumah tangga yang telah mengikuti pelatihan PE. Di antaranya mulai dari pelatihan jahit, bordir, membuat bed cover, sovenir, dan kerajinan eceng gondok. Ke lima jenis pelatihan ini spesial untuk menyasar pasar menengah ke atas.

“Ibu-ibu jangan takut untuk terus belajar dan belajar. Ini adalah cara kita untuk meningkatkan kualitas kita di mata dunia. Kita juga jangan cepat puas dengan apa yang kita dapatkan selama ini. Kita harus terus belajar dan meningkatkan kreativitas, karena Surabaya akan jadi Kota Budaya,” kata Risma menyemangati ibu-ibu.

Menurut Risma, Surabaya memiliki potensi yang cukup tinggi untuk digali. Satu di antaranya peradaban dan keseniannya. Jika selama ini orang berpikir warga Surabaya tidak berbudaya itu salah. Menurut Risma justru sebaliknya, Surabaya kini tengah menjadi perhatian dunia karena karya seninya dan berbagai macam keunggulan lainnya.

“Untuk itu sekarang kita harus masuk ke pasar menengah ke atas. Karena pasar itu menjanjikan. Mereka hanya butuh kualitas yang baik dan menarik. Sehingga barang dijual berapapun pasti laku ibu-ibu,” jelasnya.

Risma juga berharap tidak hanya kerajinan, kuliner juga harus ditingkatkan kualitasnya. Bahkan Risma mengajak warganya berpikir, bahwa setiap orang yang datang ke Surabaya harus menyasar kuliner yang enak-enak di Surabaya.

“Ayo kita bangun Surabaya sebagai Kota Kuliner juga. Ke depan kita bangun paradigma, orang yang masuk Surabaya itu pasti merusak program dietnya. Ini karena makanan di Surabaya semuanya enak-enak, jadi mereka lupa akan diet dan lain sebagainya,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Pelatihan PE Nanik Heri menjelaskan, program pelatihan pendalaman ini ditujukan agar kualitas produksi dan pengalaman ibu-ibu lebih baik lagi. Selain mengikuti pelatihan pendalaman, ibu rumah tangga ini juga akan dimagangkan di berbagai gerai kerajinan di Surabaya yang sudah matang.

“Termasuk di Surabaya Hotel School, mereka bahkan sampai buka dapur untuk melatih ibu-ibu ini. Memberi semua resepnya bahkan mengajari cara membuat setiap makanan yang mempunyai cita rasa tinggi. Nanti mereka juga dimagangkan di sana,” jelasnya. (wh)