BI: Pertumbuhan Kredit Jatim Melambat

BI: Pertumbuhan Kredit Jatim Melambat
Dwi Pranoto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV Jatim.

Pertumbuhan ekonomi Jatim tahun ini mencapai 6,9 persen. Namun, sektor perbankan di Jatim khusus penyaluran kredit mengalami perlambatan.

Catatan Bank Indonesia, penyaluran kredit oleh perbankan umum di Jatim sampai dengan akhir Triwulan I/2014 tumbuh 23,18 persen secara year-on-year (yoy) menjadi Rp311,26 Triliun dari posisi akhir triwulan I/2013 yang tercatat Rp 251,40 triliun. Pertumbuhan penyaluran kredit di awal tahun 2014 ini masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan penyaluran kredit pada periode yang sama tahun lalu yang tercatat 27,03 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV Jatim, Dwi Pranoto, mengatakan perlambatan pertumbuhan kredit ini utamanya didorong oleh minimnya pertumbuhan kredit konsumsi yang hingga akhir Triwulan I/2014 hanya tumbuh 15,16 persen  (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2013 sebesar 26,77 persen.

“Perlambatan ini utamanya terjadi pada penyaluran kredit properti (KPR) dan kredit Kendaraan Bermotor (KKB), yang diyakini terkait dengan tertahannya permintaan masyarakat untuk kedua jenis kredit ini, sebagai respon dari penerapan kebijakan Loan To Value (LTV) yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk mengerem laju pertumbuhan kredit konsumsi secara nasional,” terang Dwi Pranoto dikantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV Jatim, Jumat (16/5/2014).

Dwi mengungkapkan , dari total kredit yang disalurkan perbankan di Jatim pada awal tahun ini, jenis kredit produktif yakni kredit modal kerja dan investasi masih mendominasi dengan pertumbuhan yang cukup signifikan. Total penyaluran kredit produktif di Jatim selama Triwulan I/2014 tercatat sebesar Rp229,48 triliun dengan proporsi 73,73 persem dari total kredit. Sementara itu proporsi kredit konsumsi hanya sebesar 26,27 persen atau mencapai Rp. 81,78 triliun.

“Pertumbuhan kredit produktif yaitu kredit modal kerja dan investasi masih tumbuh cukup tinggi di kisaran 25-33 persen atau lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan kredit secara umum. Hal ini menunjukkan cukup baiknya portofolio kredit perbankan di Jatim yang difokuskan pada pengembangan sektor usaha yang dapat memberikan multiplier effect untuk mendorong pengembangan sektor riil,” ungkapnya.

Disinggung persiapan kebutuhan uang baru jelang Lebaran 2014, Direktur Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV Jatim Hamid Ponco Wibowo menegaskan, BI sudah mengantisipasi kebutuhan uang kartal masyarakat jelang  Lebaran 2014. Khusus untuk melayani penukaran uang di Jatim, bank sentral menyiapkan dana Rp 7 triliun. Disisi lain Ponco menyebutkan, penukaran uang bisa dilakukan di 500 kantor cabang dan oulet di seluruh wilayah Jatim.

“Seperti tahun sebelummnya penukaran uang baru ini dilakukan 500 outlet di Jatim nantinya. Jika tahun ini ada lonjakan yang tinggi tidak menutupkan kemungkinan jumlah oulet akan bertambah nantinya,” tegasnya.

Sementara untuk mengatasipasi peredar uang palsu jelang Lebaran 2014 BI dan aparat kepolisian terus melakukan koordinasi dengan peradan uang palsu ini. Tahun lalu  Surabaya menjadi kota terbesar dalam peredaran uang palsu di Jatim.

“Jumlah uang palsu yang ditemukan dan dilaporkan, pada 2013 di Jatim ditemukan 30.675 lembar. Dari jumlah itu meningkat 24,54 persen dibandingkan dengan penemuan uang palsu pada  tahun sebelumnya. Semantara wilayah Surabaya menduduki peringkat pertama dengan total 13.469 lembar,” paparnya.

Namun Ponco mengaakui, peredaran uang palsu jelang Lebaran maupun momen penting lainnya kerap sekali beradar mengiangat pera pelaku (pembuat uang palsu) semakin lama makin canggih.

“Walaupun demikian, apapun yang dilakukan meraka (pembuat uang palsu) tetap saja masih ada kesalahan cara membuat uang palsu. Tahun ini, kami berharap pada masyarakat agar tetap waspada jelang lebaran peredaran uang palsu ini.,” pungkasnya. (wh)