BI Perkuat Kebijakan Makroprudensial

BI Perkuat Kebijakan Makroprudensial

 

Guna memitigasi risiko sistemik di sektor keuangan, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat kebijakan makroprudensial. Kebijakan ini ditempuh dengan mengarahkan pengendalian kredit dan likuiditas agar sejalan dengan pengelolaan stabilitas makroekonomi.

“Seluruh kebijakan Bank Indonesia akan diperkuat dengan berbagai langkah koordinasi kebijakan bersama Pemerintah, termasuk dalam upaya mengendalikan harga pangan,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dr Juda Agung.

Menurut dia, dalam bidang sistem pembayaran kebijakan diarahkan pada pengembangan industri sistem pembayaran domestik yang lebih efisien. “Langkah ini dilakukan karena BI cermati ada tiga risiko eskternal terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

“Tiga risiko ini (ekternal) menjadi pertimbangan BI untuk mempertahankan BI rate bulan ini, tapi kita tetap memperhatikan kondisi ekonomi baik global maupun domestik. Kita akan pantau terus arah perekonomian itu seperti apa,” papar Juda.

Dia menjelaskan, arah kebijakan BI pada tahun 2014 tetap difokuskan untuk menjaga stabilitas perekonomian dan sistem keuangan melalui penguatan bauran kebijakan makroprudensial, moneter dan sistem pembayaran.

Dijelaskan, di bidang moneter kebijakan BI tetap diarahkan untuk mengendalikan inflasi menuju sasarannya dan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang sehat, melalui kebijakan suku bunga dan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya.

Pada bagian lain, BI mengungkapkan jumlah kredit perbankan nasional yang disalurkan ke sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mencapai Rp 608,8 triliun hingga akhir Desember 2013. Sebagian besar kredit UMKM disalurkan kepada usaha menengah yang mencapai 19,4 persen.

“Pengembangan skema kredit UMKM sangat penting karena terbukti memberikan kontribusi  yang cukup bagus bagi perekonomian nasional,” ujar Direktur Departemen Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM BI, Yunita Resmi Sari.

Pertumbuhan kredit UMKM pada bulan Desember 2013 adalah sebesar 15,7  persen (yoy), meningkat dari pertumbuhan tahun lalu yakni sebesar 14,9 persen di 2013. Untuk NPL (kredit macet) UMKM pada Desember 2013 tercatat di angka 3,21 persen yang membaik dari Desember 2012 yakni  3,23 persen. “Kinerja ini membaik karena adanya restrukturisasi kredit,” cetusnya.

Dia menambahkan, saat ini jumlah unit usaha UMKM mencapai 56,5 juta atau 99,9 persen dari total pelaku usaha. Sementara UMKM menyerap tenaga kerja sebanyak 97,2 persen dari total tenaga kerja 107,7 juta.(wh)