BI Mulai Edarkan Uang NKRI

 

BI Mulai Edarkan Uang NKRI

Peredaran uang NKRI pecahan Rp 100.000 emisi baru dari Bank Indonesia (BI) sudah dilakukan sejak Minggu (17/8/2014) lalu. Namun untuk wilayah, baru disosialisasikan oleh BI pada Selasa (19/8/2014).

“Sesuai petunjuk memang yang menginformasikan pertama dari BI pusat oleh Gubenur dan Menteri Keuangan. Setelahnya baru yang di daerah,” kata Deputi Kepala Perwakilan BI Wilayah IV Jatim, Hamid Ponco Wibowo, di kantor BI Surabaya.

Di Surabaya sendiri, uang NKRI pecahan Rp 100.000 emisi baru ini, telah dikenalkan di kantor BI Surabaya pada Minggu (17/8/2014). Usai upacara bendera HUT RI di kantor BI, loket dibuka untuk melayani penukaran perdana. Bersamaan dengan itu, telah disiapkan beberapa bagian untuk didistribusikan di perbankan. Proses pendistribusian dilakukan mulai Senin (18/8/2014).

Untuk wilayah IV, Hamid menyebutkan, pihaknya mendapatkan jatah awal sebanyak Rp 420 miliar. “Jumlah itu kemudian dibagi untuk empat kantor yang ada dibawah wilayah IV, yaitu di BI wilayah Surabaya, Malang, Kediri, dan Jember,” lanjut Ponco.

Untuk pendistribusian di perbankan, dilakukan dengan presentasi bagi rata. Ponco mencontohkan, untuk tahap awal ini, dengan rincian bila satu bank permintaan uang NKRI pecahan Rp 100.000 sebanyak 100 lembar, mungkin hanya sekitar 2-3 lembar yang merupakan uang emisi baru. Sementara di kasir kantor BI, jumlahnya juga terbatas sesuai stok yang ada. Namun bagi masyarakat yang melakukan penukaran, dilayani berapapun jumlahnya, namun tergantung stok.

“Untuk itu, kami tidak bisa membatasi maupun menyarankan. Karena uang emisi lama masih tetap berlaku dan dicetak. Mungkin baru akan tergantikan setelah dua atau tiga tahun,” jelas Hamid.

Apalagi stok sebesar Rp 420 miliar uang emisi baru ini tidak akan berlangsung lama. Secara bertahap akan bertambah, sesuai dengan pembagian stok dari BI pusat. Tahapan penambahan stok ini bisa dilakukan dalam hitungan harian atau mingguan. Karena kebutuhan uang pecahan Rp 100.000 di Jatim juga besar.

Untuk penukaran uang baru ini, di kasir BI kantor wilayah Surabaya, dilakukan di jam kerja mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Sementara untuk diperbankan, sesuai operasional di perbankan itu dan sesuai stok.

“Sementara di Jatim masih jumlah itu peredarannya. Kalau di mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri-red) belum, mungkin minggu-minggu selanjutnya baru akan ada,” ungkap Hamid.

Sementara itu, tercatat kebutuhan uang tunai pecahan Rp 100.000 di Jatim, di bulan Juli 2014 sebanyak Rp 9,6 triliun. Jumlah itu besar, karena bersamaan dengan masa Ramadan dan Lebaran 2014. Sedangkan di bulan-bulan biasa, antara Rp 2,2 triliun hingga Rp 4,3 triliun.

Sementara untuk peredaran uang NKRI total sepanjang Juli 2014 dengan adanya momentum Ramadan dan Lebaran, tercatat mengalami peningkatan dibandingkan prediksi yang disiapkan. Bila prediksi yang disiapkan sebanyak Rp 16,2 triliun, dalam realisasinya mencapai Rp 17,1 triliun. Atau naik menjadi 105 persen.

Kenaikan dari prediksi itu dialami di kantor wilayah BI Malang dan Kediri. Bila di Malang, diprediksi mencapai Rp 2,5 triliun, naik 125 persen menjadi Rp 3,2 triliun. Begitu pula di kantor BI Wilayah Kediri, dengan prediksi Rp 2,5 triliun, naik 156 persen menjadi Rp 4 triliun. Sedangkan di kantor BI wilayah Surabaya hanya mencapai 84 persen dari prediksi Rp 8,7 triliun, menjadi Rp 7,8 triliun. Begitu pula di wilayah Malang dari prediksi Rp 2,2 triliun, mencapai 93 persen atau hanya terealisasi Rp 2 triliun. (wh)