BI Jatim Kembangkan Klaster Kedelai

BI Jatim Kembangkan Klaster Kedelai
Bupati Fadeli Saat Menandatangani Nota Kesepakatan dengan Perwakilan BI Jawa Timur. foto: halolamongan.com

Kedelai adalah salah satu komoditi pangan strategis (sumber protein nabati utama masyarakat),  khususnya sebagai komoditas subsitusi utama protein hewani. Kebutuhan kedelai secara nasional sebesar 2,2 juta ton/tahun dan hampir separuh kebutuhannya dipenuhi melalui impor.

Di Jawa Timur sendiri, rata-rata produksi kedelai adalah 420.000 ton/tahun, dan impor sebesar 65.000 ton/tahun. Selain merupakan komoditi pangan strategis, kedelai juga merupakan salah satu komoditas volatile foods yang memberikan sumbangan terhadap inflasi di Jawa Timur sebesar 0,01% (data April 2015).

Ketidakseimbangan permintaan dan penawaran (sisi supply), merupakan salah satu penyebab terjadinya inflasi komoditas kedelai, sehingga diperlukan tindakan untuk mendukung ketersediaan dan keseimbangan pangan dimaksud.

Oleh karenanya, kedelai merupakan salah satu komoditi yang memperoleh prioritas untuk dikembangkan oleh pemerintah dalam rangka penyediaan protein bagi masyarakat banyak, dan khususnya Bank Indonesia sebagai bagian pengendalian inflasi volatile foods dari sisi supply sekaligus memperkuat kedelai dalam negeri sehingga dapat mengurangi volume impor.

Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur memandang perlu dilakukannya upaya peningkatan produksi dan produktivitas kedelai di Jawa Timur, khususnya melalui pengembangan budidaya kedelai dengan pendekatan klaster. Pada bulan Juni 2015, Bank Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Lamongan telah menandatangani memorandum of understanding (MoU) dalam rangka pengembangan klaster kedelai.

Pengembangan klaster kedelai merupakan upaya penguatan sinergi dan kolaborasi Bank Indonesia dengan Pemerintah Kabupaten Lamongan dalam rangka mengembangkan sektor riil dan khususnya dalam pengendalian inflasi komoditas pangan. Di Jawa Timur, Kabupaten Lamongan merupakan penghasil kedelai utama, dengan luas lahan tanaman kedelai 24.000 Ha dengan tingkat produktivitas yang masih relatif rendah yaitu 1,4 ton/Ha (sebagian besar varietas Wilis).

Di sisi lain, terdapat varietas kedelai lain yaitu “Grobogan” yang mampu mencapai produktivitas di atas 2,5 ton/ha. Varietas kedelai ini, di samping tingkat produktivitasnya lebih tinggi, juga sesuai untuk mensubsitusi kebutuhan kedelai impor karena memiliki ukuran bulir kedelai yang relatif besar dan memiliki tingkat kandungan protein yang lebih tinggi di bandingkan kedelai impor.

Dalam rangka mendukung program swasembada pangan nasional, Pemerintah Kabupaten Lamongan telah menetapkan komoditi kedelai sebagai salah satu dari 3 komoditi pangan yang memperoleh prioritas untuk dikembangkan (setelah padi dan jagung, dikenal dengan PAJALI). Pengembangan klaster ketahanan pangan oleh Bank Indonesia, merupakan salah satu upaya Bank Indonesia ikut mendukung dan berkontribusi pada upaya pemerintah daerah dalam mencapai ketahanan dan kemandirian pangan nasional serta peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah.

Tujuan umum pengembangan klaster kedelai di Kabupaten Lamongan adalah dalam rangka meningkatkan produksi dan pendapatan petani kedelai, khususnya melalui peningkatan produktivitas dari semula rata-rata 1,4 ton/Ha menjadi di atas 2 ton/Ha yang didukung oleh kelompok tani yang kuat.

Dengan meningkatnya produktivitas, diharapkan dapat menstabilkan harga komoditas kedelai, meningkatkan kesejahteraan petani dan pada gilirannya dapat mengurangi volume impor kedelai. Untuk mencapai tujuan dimaksud, Bank Indonesia telah memberikan beberapa bantuan berupa bantuan fisik dan non-fisik (berupa pendampingan dan pelatihan). Bantuan fisik yang telah diberikan berupa hand sprayer dan mesin perontok kedelai, padi dan jagung atau yang dikenal dengan power thresher.

Sedangkan bantuan non fisik yang diberikan berupa pendampingan budidaya kedelai dengan varietas Grobogan, dan penguatan kelembagaan kelompok petani kedelai. Melalui penguatan kelompok diharapkan kelompok petani kedelai yang tergabung di dalam klaster dapat menjalankan kegiatan usaha, diantaranya simpan pinjam dan perdagangan, sehingga keberadaan kelompok tani benar-benar dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi anggotanya.

Pengembangan klaster kedelai didahului dengan pembangunan demplot seluas 15 Ha (10 Ha di Kecamatan Sugio dan 5 Ha di Kecamatan Kedungpring). Dengan pendampingan tenaga PPL dan konsultan ahli kelembagaan dan budidaya kedelai khususnya varietas Grobogon, Demplot kedelai telah menunjukkan hasilnya, diantaranya waktu panen yang lebih cepat (kurang dari 75 hari) dan produksi yang relatif lebih tinggi dibandingkan varietas wilis yang selama ini banyak ditanam oleh petani di Lamongan.

Dengan kondisi tidak memperoleh pengairan yang cukup baik oleh karena musim kemarau yang terjadi selama periode tanam, demplot tersebut berhasil mencapai rata rata produksi  2,2ton/ha, tertinggi 2,72 ton/Ha. Angka ini diperkirakan akan dapat lebih tinggi lagi apabila lahan memperoleh pengairan yang cukup.

Ke depan, Bank Indonesia berharap agar keberhasilan pengembangan klaster kedelai dengan varietas Grobogan ini dapat direplikasi oleh para petani di Kabupaten Lamongan, tentu dengan metode dan cara budidaya yang sesuai (berbeda dengan varietas wilis yang selama ini menjadi favorit mayoritas petani kedelai). Dengan demikian, ketahanan pangan komoditas kedelai dalam negeri yang selama ini diidamkan dapat segera tercapai. (wh)