BI Jatim dan Kabupaten Tuban Kembangkan Klaster Sapi Potong

BI Jatim dan Kabupaten Tuban Kembangkan Klaster Sapi Potong

Bank Indonesia Jawa Timur bersama dengan Pemerintah Kabupaten Tuban menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) Pengembangan Klaster Sapi di Kabupaten Tuban. MoU ditandatangani oleh Bupati Tuban, Fathul Huda, dan Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah IV Jawa Timur, Soekowardojo.

Selain kedua pihak tersebut, pihak yang turut menandatangani nota kesepahaman diantaranya Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Tuban, dan General Manager PT. Holcim Indonesia Tbk.

Penandatanganan MOU ini merupakan salah satu upaya Bank Indonesia dalam mendukung stabilitas pasokan dan harga daging sapi yang cukup berfluktuasi dan tergolong dalam komoditas volatile foods. Selain itu, pengembangan klaster di sektor pertanian dalam arti luas tersebut merupakan komponen penting untuk mendukung upaya ketahanan pangan, menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, dan diharapkan dapat memberikan nilai tambah dan kesejahteraan  masyarakat secara umum.

Kepala Kantor Koordinator Bank Indonesia Wilayah Jawa Dwi Pranoto menyampaikan latar belakang pemilihan Kabupaten Tuban sebagai lokasi klaster sapi potong Bank Indonesia. “Salah satunya didasari oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Bank Indonesia tentang komoditas atau produk jasa unggulan daerah, yang menyebutkan bahwa sapi potong merupakan salah satu dari lima komoditas unggul potensial di Kabupaten Tuban,” katanya.

Dari sisi dukungan pemerintah kabupaten, upaya yang dilakukan oleh Bank Indonesia ini sejalan dengan salah satu visi dari Pemerintah Kabupaten Tuban yang menargetkan jumlah populasi sapi sebanyak 50 persen dari jumlah penduduk. Jumlah sapi di Tuban saat ini diperkirakan sekitar 300.000 ekor, sedangkan jumlah penduduk Kabupaten Tuban saat ini sekitar 1,12 Juta jiwa.

Bupati Tuban Fathul Huda mengatakan, saat ini justru terdapat kecenderungan menurunnya populasi sapi potong di Kabupaten Tuban sebagai akibat tingginya kenaikan harga sapi pada periode sebelumnya. Selain itu, banyaknya permintaan dari luar daerah membuat peternak menjual sapi mereka keluar Kabupaten Tuban.

“Oleh sebab itu, diperlukan insentif untuk meningkatkan populasi sapi di Tuban, diantaranya dengan pemberian kredit lunak, insentif bagi peternak yang memelihara sapi bunting, dan pembentukan kelompok-kelompok ternak serta pendampingan,” paparnya.

Dalam pengembangan klaster sapi potong di Tuban, Bank Indonesia juga akan menggandeng beberapa pihak lain, diantaranya perbankan, Koperasi Wahyu Mitra Utama Tuban, Australian Aid (AusAid), dan ahli peternakan dari perguruan tinggi. Model pengembangan klaster sapi potong akan menerapkan konsep inti-plasma, dengan menggandeng local champion (peternak yang telah memiliki skala usaha yang cukup besar) sebagai inti, dan menjadikan peternak anggota koperasi sebagai plasma.

Tahapan pengembangan klaster rencananya akan dilaksanakan dalam 4 tahap, yaitu tahap identifikasi dan persiapan yang dimulai sejak tahun 2014, tahap penguatan di tahun 2015, tahap pengembangan di tahun 2016, serta tahap phasing out di tahun 2017.

Sesuai dengan konsepnya, pembangunan klaster sapi potong ini akan diarahkan untuk memperkuat sisi hulu dan hilir dari keseluruhan rantai nilai (value chain) daging sapi, yang tentunya akan sangat terbantu dengan keberadaan rumah pemotongan hewan (RPH) dan pasar hewan yang rencananya akan dibangun pada tahun 2015 oleh Pemprov Jatim.

Keberadaan RPH yang akan dikelola secara modern tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan atau mengurangi biaya logistik secara nasional, sehingga peternak tidak perlu mengirimkan sapinya ke luar daerah yang memerlukan biaya transportasi yang cukup besar tetapi cukup dikirim dalam bentuk daging atau daging yang sudah diolah.

Dari sisi permintaan, daya serap terhadap daging sapi masih sangat tinggi, dan kondisi tersebut sangat memungkinkan untuk mengembangkan sisi hilir klaster sapi potong dengan beberapa produk daging olahan, dan memperkuat sisi pemasaran daging sapi. Pada akhirnya diharapkan dapat menambah penciptaan lapangan kerja di sekitar wilayah pengembangan klaster ini. (wh)