BI: Inflasi Jatim Kisaran 7,5 Persen

inflasi jatim

Kepala Perwakilan Wilayah IV Jatim Bank Indonesia (BI), Dwi Pranoto, menuturkan angka inflasi Jatim per November 2013 sebesar 7,53 persen.

“Kami memperkirakan inflasi Jatim tahun ini akan berada pada kisaran 7,4-7,5 persen dari tahun ke tahun,” ujarnya di Kantor Wilayah IV Bank Indonesia, Surabaya, Kamis (5/12/2013).

Kepala Kanwil yang baru menjabat sebulan tersebut menjelaskan, inflasi Jatim ini diikuti peningkatan biaya produksi sekitar 10-15 persen. Peningkatan tersebut terutama dialami oleh industri pertanian, perdagangan-hotel-restoran (PHR), dan pengolahan makanan.

“Memang ada peningkatan, namun tak terlalu signifikan. Buktinya share kredit industri pengolahan makanan masih pada kisaran 28-29 persen,” ungkap Dwi.

Dwi mengatakan, saat ini BI telah memiliki sejumlah program untuk mengatasi turbulensi ekonomi itu. Di antaranya ialah menambah lima Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), sehingga nantinya TPID tak hanya ada di tingkat provinsi.

“TPID yang bertugas untuk pengendalian inflasi Jatim akan diperbanyak sampai tingkat kota dan kabupaten. Saat ini sudah siap sebanyak 13 TPID di seluruh Jatim,” ujar Dwi.

Meski indikator ekonomi Jatim membaik, BI memandang perekonomian secara nasional masih belum membaik. Menyongsong tahun 2014, kierja ekspor-impor non migas luar negeri Jatim membaik dengan menurunnya angka defisit neraca perdagangan. Nilainya menurun dari angka US$ 313 juta menjadi US$ 236 juta.

Namun, tingginya angka proporsi impor Jatim perlu dicermati. Dibandingkan dengan ekspor senilai 9 persen, impor Jatim masih mengambil porsi 13 persen terhadap total ekspor-impor nasional. Komoditas ekspor terbesar Jatim antara lain CPO, perikanan, dan udang. Sementara Jatim paling banyak mengimpor bahan baku mesin dan elektronik.(wh)