Besok, UKP Surabaya Gelar Festival Arsitektur Bambu

Besok, UKP Surabaya Gelar Festival Arsitektur Bambu

Meski sebagai salah satu negara penghasil bambu terbanyak di dunia, namun masih sedikit masyarakat yang memanfaatkan bambu sebagai bahan baku arsitektur. Ini yang kemudian membuat mahasiswa di Program Studi Arsitektur Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya ingin menyelenggarakan Festival Arsitektur Bambu.

Penanggung jawab acara, Joyce Marcella Laurens, menjelaskan bahwa masyarakat modern saat ini enggan untuk menggunakan bambu sebagai desain bangunan. Padahal, bahan baku bambu sangat unik dan baik jika digunakan sebagai bagian dari arsitektur sebuah bangunan.

“Kami sengaja mengangkat tema bambu dalam Festival kali ini karena ingin menepis anggapan masyarakat. Bahwa anggapan desain bambu kurang keren itu salah dan kita ubah menjadi keren. Dengan menggunakan teknologi yang tepat maka bambu ini bisa menghasilkan karya Arsitektur yang unik dan khas,” katanya, Kamis (19/3/2015).

Mengangkat tema Visionary Bamboo Architecture rencananya pada Jumat (20/3/2015) para mahasiswa dari Program Studi Arsitektur akan memamerkan karya-karya uniknya tentang bambu. Ada lima besar finalis lomba desain dan seminar tentang bambu akan dipamerka digedung Auditorium Arsitektur UKP Surabaya.

“Padahal bambu itu sebuah tanaman yang sudah menjadi bagian hidup masyarakat Indonesia. Karena tak hanya sebagai tanaman di pekarangan rumah saja akan tetapi juga sering di manfaatkan untuk alat musik, material bangunan, kerajinan tangan, dan masih banyak lagi lainnya. Nah saat ini kita menggugah masyarakat bahwa bambu juga bisa menjadi bahan arsitektur,” jelas dia.

Sebelumnya, Joyce menjelaskan bahwa telah dilakukan lomba arsitektur bertemakan bambu dengan total peserta mencapai 127 mahasiswa dari seluruh universitas di seluruh Indonesia. Setelah melalui tahap penjurian awal, diseleksi 25 besar karya terbaik desain.

“Untuk menentukan pemenang dalam lomba ini, lima besar finalis akan mempresentasikan hasil karya di hadapan tiga juri. Syaratnya dari lomba desain ini hanya dua yaitu harus menggunakan bahan bambu dan mempunyai fungsi fasilitas budaya”, urai Joyce lebih lanjut.

Dalam presentasi lima besar karya terbaik sekaligus seminar tersebut akan menghadirkan tiga juri yaitu seorang Arsitek yang sangat gigih menggali ilmu Arsitektur lokal, Ir. Yori Antar. Sedangkan juri kedua ialah Ir. Budi Pradono, seorang Arsitek yang memperhatikan lingkungan dan sudah di kenal di mancanegara dengan award internasionalnya (Arsitektur Hijau).

Kemudian juri ketiga menghadirkan Ir. Bisatya W Maer, M. T seorang akademisi di Universitas Kristen Petra. “Pastinya akan semakin menarik lagi pada besok karena banyak sekali peserta dari berbagai universitas yang siap untuk menyuguhkan karya terbaiknya,” tambahnya.(wh)