Bertemu Menteri Belanda, Risma Ingin Hidupkan Jembatan Petekan

Bertemu Menteri Belanda, Risma Ingin Hidupkan Jembatan Petekan

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berbagi nostalgia tentang Surabaya tempo dulu dengan Menteri Infrastruktur dan Lingkungan Hidup Melanie Schultz van Haegen dan duta besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan di Balai Kota, Jumat (4/4/2014).

Dalam pertemuannya dengan, mereka saling melontarkan kisah masa lalu kota tua yang dulu berjuluk Soerabaia itu. Risma mengutarakan keinginannya untuk menghidupkan kembali Jembatan Petekan.

“Karena jembatan itu punya nilai historis tinggi. Zaman dulu kan, kapal-kapal barang bisa masuk sampai ke pusat kota, sebab Jembatan Petekan bisa dibuka-tutup,” tuturnya. Kini, jembatan yang terletak di Surabaya Utara tersebut tak lagi difungsikan lantaran sudah rusak.

Risma juga mengungkapkan rencananya membangun Mass Rapid Transit (MRT) atau Angkutan Massal Cepat (AMC) berupa trem dan monorel. Koridor utara-selatan bakal terbentang sepanjang 17,14 kilometer, dihubungkan oleh moda trem. Sedangkan monorel akan melayani koridor timur-barat sepanjang 24 kilometer. Konsep pemilihan jenis moda tersebut bukan tanpa alasan.

“Pemilihan trem dan monorel untuk kedua koridor itu menyesuaikan kondisi lansekap Surabaya. Di jalur utara-selatan banyak berdiri bangunan cagar budaya,” terangnya.

Melanie Schultz lantas mencatat beberapa poin penting dari pemaparan Risma. Perempuan bermata kehijauan itu memandang Surabaya sebagai kota besar yang punya tantangan tersendiri di bidang infrastruktur.

Melanie mengungkapkan, Surabaya dan kota-kota di Belanda punya banyak persamaan. Arah pembangunan keduanya sama-sama berawal dari sungai. “Kami tahu betul bagaimana mengelola sungai sebagai suatu komponen penting dalam kota. Kami juga paham betul tentang pengelolaan pengairan dan banjir karena sebagian besar wilayah Belanda berada di bawah permukaan air laut,” kata Menteri Infrastruktur dan Lingkungan Hidup Belanda sejak 2010 itu.

Melanie menyambut baik inisiatif pemkot yang berencana mengirimkan stafnya untuk belajar di Belanda. Sebelumnya, Risma ingin agar terjadi transfer ilmu di bidang drainase kepada staf di lingkungan pemkot Surabaya. “Supaya bisa lebih baik menangani banjir,” imbuhnya.

“Secara keseluruhan, saya sangat terkesan dengan pembangunan Kota Surabaya. Lain waktu, saya harus lebih lama lagi di sini untuk mengetahui lebih dalam tentang kota ini,” pungkas Melanie.(wh)