Berpikir Hikmah

Berpikir Hikmah

*) Oleh: Ismail Nachu

Biduk bangsa ini terancam terkoyak. Konflik politik pasca pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legilatif (pileg) 2019 makin memanas. Banyak anak bangsa terlibat perdebatan dan pertikaian terkait hasil pesta demokrasi lima tahunan itu. Masing-masing pendukung saling berhadap-hadapan dalam menyikapi hasil penghitungan suara.

Bahkan yang mutakhir, bakal terjadi gelombang gerakan yang disebut-sebut sebagai people power pada 22 Mei 2019 mendatang. Tepat pada penetapan rekapitulasi hasil pilpres dan pileg oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Bagi saya, aksi pengerahan massa pada 22 Mei merupakan kebebasan berekspresi. Hal itu tak bisa dicegah. Sah-sah saja. Cuma yang harus diteguhkan adalah niatannya. Jangan sampai ada niat jahat yang memboncengi aksi massa tersebut.

Sudah sepantasnya semua pihak mengikuti prosedur dan aturan main yang telah disepakati. Jika sekarang kita harus menunggu pengumuman hasil rekapitulasi perolehan suara Pemilu 2019.  Jika ada yang tidak puas, ada mekanisme yang fair yang harus dilalui. Yakni dengan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Kawallah proses hukum di MK. Itu lebih bijak ketimbang jauh-jauh hari sudah menyatakan tidak percaya dengan MK.

Sejatinya, saya sungguh prihatin dengan kondisi sekarang. Gejolak politik yang makin meruncing bakal membawa kerentanan dalam demokrasi kita. Bukan hanya dari sikap dan perilaku. Tapi juga cara berpikir politik yang parsial. Yang melihat persoalan secara hitam putih. Pola berpikir masyarakat yang terpecah dengan ada blok ini dan itu, ada blok 01 dan blok 02.

Jika hal ini terus mengemuka dan makin tajam, saya khawatir imbasnya sangat fatal. Bisa mengancam disintegrasi bangsa. Bisa memicu perpecahan anak bangsa.  Pengalaman negara lain di dunia harus menjadi pelajaran.

Dalam konteks ini, saya bersama rekan-rekan Ikatan Cendekiawa Muslim se-Indonesia (ICMI) mendorong pentingnya jalan tengah untuk memecahkan kemelut bangsa sekarang. Yakni dengan melakukan rekonsiliasi. Saya kita upaya ini menjadi pilihan masuk akal yang harus dilakukan. Rekonsiliasi adalah jalan keluar di tengah situasi yang terjadi di negeri ini.

Di samping itu, kita membutuhkan gerakan untuk mendorong masyarakat ada berpikir hikmah, solutif, dan bijaksana yang mencerahkan. Yang meniadakan melibatkan kepentingan jangka pendek. Dalam Alquran surat Al Imron 159 disebutkan, jika ada konflik perlu tabayun atau rekonsiliasi. Bagi pihak yang menang, jangan menang-menangan. Bagi yang kalah, jangan ngambek-ngambekan.

Cara berpikir hikmah yang merupakan yang merupakan ciri cendekiawan, perlu dikembangkan ketika konflik dan dinamika begitu kental akan cara berpikir politik parsial. Dengan begitu kita mampu keluar dari kerumitan masalah yang membelenggu.(*)

*)Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Timur.