Berkendara sambil SMS bikin kecelakaan naik 23 kali lipat

Berkendara sambil SMS bikin kecelakaan naik 23 kali lipat

Jika ada yang bertanya, siapa yang seharusnya paling bertanggung jawab atas kecelakaan lalu lintas? Jawabnya adalah ponsel! Terutama, kegiatan mengetik Short Message Service alias SMS. Sebagai gambaran, seperempat dari semua kecelakaan di Amerika Serikat disebabkan karena ber SMS ria di jalan. Beragam iklan layanan masyarakat dan pendidikan saja sepertinya bakal tidak cukup membuat jera. Langkah lebih tegas sepertinya dibutuhkan.

Seperti yang dikutip Popsci.com, satu studi menemukan bahwa SMS membuat kemungkinan kecelakaan meningkat sampai 23 kali lipat. Tim dokter yang meneliti tersebut berasal Montreal, Kanada, Dr Barry Pless dan Dr Charles Pless. Pasangan ayah-anak itu menulisnya pada sebuah editorial di British Medical Journal.

Keduanya menyatakan, perbaikan teknologi mungkin diperlukan. Gadget dan aplikasi yang mendorong masyarakat agar mengemudi lebih aman bisa menjadi harapan terbaik untuk memecahkan masalah. “Bisa mencakup software yang mencegah SMS saat mengemudi yang ditetapkan sebagaidefault pabrik. Atau bisa berupa pesan otomatis yang memberitahu penelepon bahwa penerima sedang menyetir,” ungkap Dr Barry Pless.

Perbaikan lainnya meliputi sensor seperti jamming pengunci sinyal yang mencegah ponsel menerima SMS ketika kunci kontak bergerak. Salah satu yang sudah menyediakan adalah www.key2safedriving.com. Para dokter pun menyukai ide teknologi yang dapat mendeteksi ketika telepon berada dalam mobil yang bergerak. Dengan demikian, mampu mem-blok panggilan nondarurat, menyimpan panggilan masuk ke voicemail, dan SMS-SMS yang masuk. Sudah ada satu aplikasi untuk itu, namanya TeenSafer.

Perangkat hukum  juga harus diberlakukan lebih keras. “Yang paling penting adalah memastikan bahwa pelanggar diberi ganjaran yang paling keras,” kata Dr Barry Pless kepada The Globe and Mail. Ia mencatat, negara bagian New York telah menempatkan undang-undang yang akan menyita SIM selama 6 bulan jika mengetik SMS saat mengemudi. Nah, bagaimana dengan Indonesia?