Berkat Pahlawan Ekonomi, Industri Rumahan Kini Masuk Mal

Berkat Pahlawan Ekonomi, Industri Rumahan Kini Masuk Mal

Kresnyayana Yahya

Masyarakat Kota Pahlawan untuk berwirausaha sangat dimudahkan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Mulai dari diberi bekal pengajaran hingga mudah untuk mengurus perizinan hasil karya para pengusaha rumahan itu sendiri untuk dipasarkan.

Program Pahlawan Ekonomi (PE) ini sendiri berasal dari dua ide. Yaitu, program PE ini sendiri tidak dibiayai negara atau diambil dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Surabaya.

CEO Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, mengatakan program PE dananya berasal dari CSR perusahaan yang peduli terhadap Kota Pahlawan ini.

“Dan pola kedua adalah pelatihannya merupakan sistem kelanjutan. Dan reward-nya sendiri bukan diberi uang, tapi diberi order,” kata Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (6/2/2015).

PE sendiri juga menciptakan pasar untuk mengekspose barang-barang dari peserta pelatihan. Dan hal tersebut merupakan kekuatan utama dalam program ini.

“Banyak pengusaha biasa, tapi tidak pernah tahu exposure, maka akan rugi,” tutur dosen Statistika ITS Surabaya ini.

Dalam program pelatihan PE ini sendiri diperlukan tahapan yang harus dipakai. Dari yang tidak tahu menjadi pandai dan bila sudah pintar janganlah merasa keminter. Belajarlah terus menerus.

Pemkot Surabaya sendiri sudah menyiapkan lengkap bagi para peserta pelatihan yang berhasil. Misalnya ada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Surabaya yang bisa dimintai kredit untuk pengembangan modal usaha.

Dan juga para peserta pelatihan hasilnya juga bisa dijual di Carrefour yang sudah disiapkan dengan nama pojok rakyat. “Jadi para peserta pelatihan betul-betul dimanjakan dan hingga kini sudah banyak yang masuk ke mal,” ucapnya.

Senada dengan Kresnayana Yahya, salah satu peserta pelatihan PE yang berhasil Monica Harijati mengatakan bila program pembelajaran masyarakat itu hanya ada di Surabaya dan di kota atau kabupaten lain belum ada.

“Di daerah lain seperti Sidoarjo dan tempat lainnya belum terbentuk. Dan dipersilakan bila warga Sidoarjo ingin ikut pelatihan cuma tidak bisa ikut road show PE,” kata Monica.

PE sendiri adalah pilihan usaha untuk tempat hidup. Dari yang tidak tahu menjadi tahu. Disana para peserta diberi pelatihan mulai dari hal kecil hingga besar diajarkan kesemuanya. Internet diperkenalkan dan link untuk dibukakan order juga diajarkan.

“Kami berterima kasih kepada Pemkot Surabaya yang ajarkan hanya dari hobi masak menjadi pengusaha. Dibanding tua hanya ngemong cucu kini bisa menghasilkan uang di rumah,” lanjutnya.

Dirinya sendiri tidak menakuti adanya saingan yang sama usahanya. Para peserta menganggap kompetitor adalah pelangkah bersama. “Produk dan ide bikin baru terus hingga orang tidak sama,” tutupnya. (wh)