Berkat Es Puter, Perempuan Ini Bisa Lunasi Utang dan Rekrut Anak Punk

Berkat Es Puter, Perempuan Ini Bisa Lunasi Utang dan Rekrut Anak Punk

Hendri Widowati berbagi pengalaman bisnis di seminar Pahlawan Ekonomi dan Pejuang Muda Surabaya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Dua kelopak mata Hendri Widowati nampak berair. Beberapa kali dia menarik napas agak dalam. Melakoni perjalanan hidup yang berat membuat dirinya gampang trenyuh. Terlebih, perjuangan dia menjalankan bisnis es puter yang kini menjadi sandaran hidup keluarga.

“Semua ini berkat ridlo Allah. Saya hanya menjalani dan berusaha sekuat tenaga,” begitu ucap Hendri.

Sebelum menekuni bisnis es puter, Hendri bekerja di perusahaan farmasi. Saban bulan, dia terima gaji yang habis buat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Semula, Hendri fine-fine saja. Namun masalah mulai mendera manakala ibunya, Sumini sakit stroke. Sementara ayahnya, Bambang Sisnanto, sehari-hari menjual es puter keliling. Hampir semua wilayah Surabaya pernah disambangi. Beberapa bazar di kampung-kampung juga sering diikuti. Kadang juga ada yang pesan buat hajatan.

Karena kondisi tersebut, kebutuhan finansial keluarga Hendri meningkat tajam. Terutama untuk biaya berobat ibunya. Pada gilirannya, utang menumpuk. Tagihan datang di sana-sini. Ada yang  melalui telepon, ada juga yang datang ke rumah.

“Saya masih ingat, waktu itu utang kami Rp 86 juta,” ungkap Hendri, mengenang.

Hendri tak pernah membayangkan menemukan solusi masalah yang melilit keluarga. Hanya, dia berupaya keras mencari penghasilan.

Hendri kemudian berpikir untuk membantu ayahnya. Selain kerja di perusahaan farmasi, Hendri juga menyisakan waktu untuk membantu menjual es puter.  “Es puter racikan ayah memang enak. Banyak orang yang sudah mencoba mengomentarinya begitu,” tutur Hendri.

Tiap hari produksi es puter mulai meningkat. Pesanan juga begitu. Hendri melihat peluang besar. Dia kemudian memutuskan resign setelah bekerja di perusahaan farmasi selama lima tahun. Hendri fokus menekuni bisnis es puter.

Tahun 2009, Hendri memberanikan diri jualan di Foodfest Laguna Eastcoast. Pasarnya kalangan menengah atas. Tidak langsung ramai. Sering juga produknya retur.  Hendri melakoni dengan sabar. Karena dia yakin, bisnis butuh proses dan harus istiqomah.

Berkat Es Puter, Perempuan Ini Bisa Lunasi Utang dan Rekrut Anak Punk
Wali Kota Risma bareng Aiman (Kompas TV) menikmati es puter Intisari.foto:ist

Suatu ketika, saat Tahun Baru, Hendri mendapat berkah. Es puternya laris manis. Dari tiga boks yang dibawa, semuanya ludes tak tersisa. “Satu boks isinya untuk 100 cup. Jadi, sekitar 300 cup yang terjual. Waktu itu saya bawa pulang uang Rp 650 ribu,” tutur Hendri.

Sejak itu, es puter Hendri yang dilabeli Intisari, mulai dikenal. Banyak pengunjung  Foodfest Laguna Eastcoast yang mampir ke gerainya. Omzet yang diraup pun makin meningkat. Hendri bisa mendapat penghasilan Rp 1-2 juta per hari.

Selain di Foodfest Laguna, Hendri juga kerap diajak ikut pameran. Kebetulan, namanya dimasukkan sebagai anggota Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restaurant Indonesia (Apkrindo) Jatim oleh petinggi Foodfest Laguna.

“Saya sering diajak jualan di Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan. Dulu, cari UKM susah. Yang ikut event itu pengusaha-pengusaha kuliner yang sudah besar,” ungkap Indra.

Kolom penghasilan Hendri terus membesar. Kondisi tersebut sangat membantu keluarga. Masalah utang yang belum terbayar sudah mulai bisa diangsur. Tak hanya itu, Indra juga bisa menyisihkan duit untuk membangun rumah di Jalan Simo Gunung Baru Jaya F2/20, Surabaya.

“Setelah delapan tahun, Alhamdulillah, saya bisa melunasi utang dan membangun rumah. Sekarang membangun tiga tingkat,” ucap Indra.

Tampung Anak Punk

Kendati sudah menghasilkan, Hendri Widowati tak pernah berhenti mencari peluang meningkatkan penjualan es puter Intisari. Suatu ketika, dia diberi tahu pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surabaya terkait pelatihan kewirausahaan Pahlawan Ekonomi. Tempatnya di Kaza City Mall. Gratis.

Hendri menyambut hangat. Beberapa hari kemudian, dia mendaftarkan diri ikut pelatihan Pahlawan Ekonomi. Tidak rumit. Hanya diminta menunjukkan KTP domisili Surabaya. Hendri lalu diarahkan untuk bergabung di cluster culinary business, sesuai produk unggulannya.

Berkat Es Puter, Perempuan Ini Bisa Lunasi Utang dan Rekrut Anak Punk
Anak punk yang membantu usaha es puter Intisari.foto:hendri w

Di Pahlawan Ekonomi, Hendri belajar banyak hal. Mulai pelatihan teknis, digital marketing, manajemen keuangan, branding and packaging, dan masih banyak lagi.

“Banyak pelajaran berharga di sana (Pahlawan Ekonomi, red). Saya mendapat pelajaran menghitung HPP (Harga Pokok Produksi), pelatihan membuat coklat yang bagus kemudian saya aplikasikan di es puter. Mantap banget,” tutur dia.

Saat melebarkan cakar bisnis,  Hendri mencari tempat yang bisa lebih dekat dengan pembeli. Hendri lantas buka tiga gerai mobile di Jalan Kombes Pol. Mu Duryat, Jalan Manyar Jaya, dan Jalan Undaan.

Kala itu, Hendri punya pegawai anak punk. Dia membinanya dari nol. Bagi dia, penampilan boleh nyeleneh, tapi kerja harus baik. Indra menanamkan disiplin, kebersihan, dan bersikap ramah terhadap pembeli.

“Anak punk itu kemudian ngajak saudaranya. Anak punk juga. Dia bilang mau kerja dengan saya. Ingin mengubah masa depan. Ya, akhirnya  saya terima,” ungkap Hendri.

Hendri tak pernah membayangkan bekerja dengan anak punk. Yang dia tahu, anak punk itu hidupnya ruwet. Makan makanan sisa orang, tidur di truk, gak pernah mandi, dan seabrek cap negatif lain.

“Tapi ternyata mereka bisa dibina. Dari situ, saya berkeinginan membantu mereka. Sekarang ada tujuh anak punk yang membantu saya,” ungkap Hendri.

Aku dia, semua anak punk tinggal di rumahnya. Semua kebutuhan dicukupi. Bahkan sampai urusan sabun dan pasta gigi. Hendri sangat terbantu dengan keberadaan mereka. Terlebih untuk kegiatan pameran, mereka bisa diandalkan.

Dari kerja keras selama 10 tahun, Hendri kini bisa tersenyum. Apalagi dia dinobatkan sebagai Juara 2 Pahlawan Ekonomi Award 2019 Kategori Culinary Business.

Sehari, Hendri bisa memproduksi 500 porsi. Omzet per hari berkisar Rp 4- 6 juta. “Saya ingin beli mesin produksi kapasitas tinggi untuk mengembangkan usaha,” tutur dia. (wh)