Berkah Dolly Ditutup, Perempuan Ini Kini jadi Perajin Batik

Berkah Dolly Ditutup, Perempuan Ini Kini jadi Perajin Batik

Fitria Anggraini Lestari memamerkan batik buatannya

Menjadi pelaku usaha bukan hanya dapat mengangkat derajat perekonomian keluarga, tetapi juga menghasilkan rezeki yang halal dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Hal itulah yang menginspirasi Fitria Anggraini Lestari, owner Batik Tulis Jarak Arum. Fitria adalah salah satu warga terdampak penutupan Lokalisasi Dolly oleh Pemerintah Kota Surabaya pada pertengahan tahun 2014 lalu.

Dulu, Fitria yang tinggal di Kelurahan Putat Jaya RW 2 itu, adalah seorang penjahit yang biasa mendapatkan order dari para perempuan tuna susila Dolly.

“Sebelum ditutup, saya sering dapat order permak dan jahitan. Pelanggan saya hampir 80 persen adalah mereka yang bekerja di wisma di lingkungan lokalisasi Dolly,” ujar Fitria, mengenang.

Pada saat itu, kehidupan Fitri sangat berkecukupan. Saban bulan ia dapat mengumpulkan pemasukan paling sedikit Rp 9 juta dari jasanya menjahit. Selain itu, keluarganya juga mendapatkan penghasilan di luar usahanya tersebut dari usaha sang suami.

Namun, bagi dirinya, kemajuan usaha dan uang berlimpah hasilnya menjahit tidak membuatnya senang. Ia mengaku risau dengan mengubah lingkungan tempat tinggalnya yang terkenal sebagai lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara itu.

Lantas, tahun 2014, Pemerintah Kota Surabaya menutup lokalisasi Dolly. Kebijaskan tersebut disambut gembira oleh Fitria dan juga banyak tetangganya.  Dia dan suaminya sangat mendukung upaya positif yang dilakukan Pemkot Surabaya yang dikomandani Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

“Pada saat kejadian itu, saya tidak lagi berpikir kelanjutan usaha yang sudah belasan tahun saya rintis. Yang ada di pikiran saya dan suami saat itu adalah bagaimana caranya membantu pemkot segera menutup lokalisasi,” ucap dia.