Berikan Asi Eksklusif Tanpa Susu Formula

Berikan Asi Eksklusi Tanpa Susu Formula

Ridzotullahmad Nurchakim dan Umul Jariyah dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (13/7/2018).

Di kota besar seperti Surabaya, banyak perempuan ikut bekerja dan sedikit dari mereka menghabiskan waktu di rumah. Kondisi ini jangan membuar para perempuan mengabaikan kewajiban memberi asupan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada anaknya.

“Kenyataan ini tidak membuat para perempuan terbebani. Banyak dari mereka dapat membagi waktu untuk memberika ASI eksklusif demi perkembangan sang anak. Memang hal ini butuh usaha lebih untuk membagi waktu dan perhatian,” kata Ridzotullahmad Nurchakim, staf Seksi Promosi dan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Surabaya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya bertajuk “Sosialisasi ASI dan Susu Segar untuk Anak dan Balita” yang dipandu Kresnayana Yahya, Jumat (13/7/2018).

Dia lalu menjelaskan, satu hal yang perlu digaris bawahi, susu formula tidak dapat menggantikan semua kandungan gizi yang ada pada ASI eksklusif.

Konsumsi susu formula ini hanya untuk menambah gizi yang sudah diberikan kepada anak.

Kata dia, pengolahan susu wajib diperhatikan. Karena jika pengolahan salah, kandungan gizi dalam susu bakal berkurang dengan yang semustinya. Proses pengolahan susu ini dikenal dengan pasteurisasi susu. Ada dua macam cara pasteurisasi susu. Yaitu Low Temperature Long Time (LTLT) dan Pasteurisasi High Temperature Short Time (HTST).

“Pengolahan susu menjadi hal yang penting. Selain kandungan protein, dalam susu terdapat berbagai kandungan bakteri yang baik bagi tubuh. Jika pengolahan susu salah, maka kandungan protein dalam susu bakal berkurang. Otomatis hal ini sangat berpengaruh pada susu yang dikonsumsi,” ucap dia.

Kepala Seksi Kefarmasian, Makanan, dan Minuman Dinas Kesehatan Kota Surabaya Umul Jariyah M.Kes. menjelaskan, setelah melalui proses pengolahan, susu formula memiliki kandungan gizi yang baik. Namun, kandungan gizi yang ada dalam susu formula jauh di bawah ASI eksklusif.

“Susu formula ini sebenarnya dirancang sedemikian mungkin mirip dengan ASI eksklusif, namun tidak bisa mirip. Salah satu kandungan dalam susu formula yang tidak dapat menyaingi ASI eksklusif adalah kandungan protein,” jabar dia.

Umul juga menyarankan kepada masyarakat agar dapat memberikan ASI eksklusif kepada anak tanpa memberikan susu formula. “Menurut saya, dengan memberikan ASI eksklusif selama dua tahun kepada anak saja sudah cukup untuk membantu perkembangan sang anak. Saya kembali menekankan, susu formula ini adalah asupan tambahan bagi tumbuh kembang anak. Jadi kita tidak boleh salah persepsi,” ujarnya. (wh)