Berhenti jadi SPG, Perempuan Ini Raup Jutaan Rupiah dari Jualan Coklat

Berhenti jadi SPG, Perempuan Ini Raup Jutaan Rupiah dari Jualan Coklat

Syani Novita Saragih raup untung dengan produk coklat buatannya. foto-foto:sandhi nurhartanto/enciety.co

Elan-coklat-3Keberuntungan bisa datang kepada siapa saja. Tak terkecuali Syani Novita Saragih. Perempuan ini mampu mendulaan jutaan rupiah setelah menggantikan bendahara RT kampungnya yang absen ikut bazar Pahlawan Ekonomi (PE) Surabaya.

Ceritanya tahun 2014 lalu, Itu (begitu panggilan karibnya), dihubungi pengurus RT setempat. Intinya, dia diminta berpatisipasi dalam bazar Pahlawan Ekonomi yang dihelat di Kecamatan Sukolilo lantaran ada peserta yang berhalangan.

Saat itu, Ita belum mengiyakan. Sebab, dia belum tahu banyak soal eksistensi Pahlawan Ekonomi. Selain itu, dia tidak pede dengan produk Elan Coklat yang akan diikutkan bazar. Setelah dijelaskan kalau Pahlawan Ekonomi adalah gerakan pemberdayaan ekonomi keluarga di Kota Pahlawan, Ita mulai ngeh. Apalagi bentuk dukungannya diwujudkan dengan mendorong lahirnya para pelaku usaha kecil menengah (UKM).

Singkat cerita, Ita akhirnya menerima ajakan pengurus RT kampungnya untuk ikut bazar. “Sejatinya saya ragu apakah produk saya layak ikut bazar. Tapi saya diyakinkan pengurus RT, ya saya pun menerima,” ucap ibu dua orang anak ini kepada enciety.co, Jumat (18/12/2015).

Sebelumnya, Ita sudah menjajakan coklat buatannya sejak tahun 2009. Produknya dijual di beberapa toko, warung, dan sekolah. Awalnya hanya  dititipkan di tempat-tempat tersebut yang tak jauh dari rumahnya di Jalan Semolowaru 199, Surabaya. Kemudian dia memberanikan diri untuk menitipkan pusat perbelanjaan. Di antaranya di Tunjungan Plaza (TP), Siola, hingga Toko Nam.

“Nilainya tidak seberapa besar. Dibandingkan saya melayani pesanan saat puasa Ramadan. Tapi saya banyak mendapat banyak pengalaman dan kenalan,” ucap dia.

Nah, ketika ikut bazar Pahlawan Ekonomi, Ita sungguh surprise. Dia tidak menyangka banyak orang yang menyukai kurma coklat dan kripik singkong buatannya.

“Tidak rugi menjadi peserta pengganti. Selain dagangan saya laku keras, saya juga dinyatakan lolos menjadi anggota dan berhak ikut pelatihan Pahlawan Ekonomi,” tutur dia.

Kini, setelah mengikuti berbagai pelatihan Pahlawan Ekonomi, Ita mampu membuat berbagai macam coklat dengan berbagai variasi. Mulai dari coklat paralin hingga coklat yang dipadu padankan dengan green tea. Yang terbaru adalah coklat barr (coklat dengan kemasan Elan).

“Tujuan membuat kemasan adalah agar saat dikirim ke luar pulau, coklat tersebut dapat bertahan lama dan tidak mudah rusak. Itu yang diajarkan di Pahlawan Ekonomi dan akhirnya saya tahu bila kemasan yang bagus bisa menambah masa kedaluwarsa hingga dua tahun. Namun bila kemasannya buruk, maka coklat tidak akan bertahan lama,” jelasnya.

Elan-coklat-2

Dengan memperkerjakan seorang pekerja dari warga sekitar Semolowaru, istri dari Agus Ilham tersebut mengaku bersyukur dengan kondisinya kini yang terus membaik. Betapa tidak, dengan coklat bikinannya, ibu dari Risky Kharisma dan Septiani Wulandari tersebut, mampu mendapatkan penghasilan kotor Rp 12 juta sebulan.

Dibandingkan dulu, saat dia bekerja sebagai sales promotion girls (SPG) pakaian dalam wanita. Tugasnya berkeliling ke beberapa pusat perbelanjaan di Surabaya. Penghasilan yang diraup tak cukup untuk memenuhi kebutuhan periuk nasinya selama sebulan. Sementara dia tak bisa banyak berharap dari penghasilan suaminya yang membuka bengkel cat mobil.

Wanita yang berumur 44 tahun tersebut bisa mempekerjakan satu orang yang masih tetangganya untuk membantu dirinya membuat coklat dari dapur sederhana miliknya. “Alhamdulillah, kini penghasilannnya saya lebih baik setelah ikut pelatihan Pahlawan Ekonomi,” ujar dia.

Produk Elan Coklat sendiri kini mudah dijumpai di toko brownies Amanda dan restoran Bu Rudy yang menjual menu khasnya sambel. Ita juga berhasil menjual produknya ke Papua dan Sumatera. (wh)