Berdayakan UKM dengan Program Inklusi Keuangan

Berdayakan UKM dengan Program Inklusi Keuangan
Peluncuran Program Inklusi Keuangan yang didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Kaza City Surabaya, 28 Mei 2015. foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Terobosan progresif dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ini setelah lembaga yang berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan tersebut, membantu Pahlawan Ekonomi. Sebuah gerakan pemberdayaan keluarga yang digagas untuk menghidupkan “mesin kedua”. Dimana, kaum perempuan bisa berkerja tanpa meninggalkan rumah. Berikut laporan Agus Wahyudi, jurnalis enciety.co.

ANTREAN kaum hawa di lantai 1 Kaza City Surabaya terlihat mengular, pagi itu. Enam meja yang disediakan untuk melayani registrasi peserta penuh sesak. Rona-rona keceriaan memendar di antara mereka. Omset, produk, customer, dan segala hal yang menyangkut bisnis mewarnai pembicaraan mereka.

Hari itu, tepatnya Minggu, 31 Mei 2015, adalah momen spesial. Pasalnya, mereka menghadiri acara Launching Pahlawan Ekonomi 2015. Yang agak luput perhatian, dandanan ibu-ibu rumah tangga itu yang hadir berbeda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya pada acara yang sama. Mereka ini boleh dibilang lebih ‘kinclong’. Lebih fresh. Banyak yang menyakini jika mereka kini sudah punya duit lebih selain memenuhi kebutuhan periuk nasinya. Bahkan, sudah banyak di antara mereka yang bisa membeli mobil untuk operasional.

Tahun ini, merupakan penyelenggaraan kelima Pahlawan Ekonomi, pasca dirilis pada 2010. Selama lima tahun, Pahlawan Ekonomi fokus pada upaya pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas atau keluarga. Program ini untuk mendorong pengembangan kualitas ekonomi kerakyatan, khususnya bagi pelaku UKM. Dengan kesempatan berkarya yang makin terbuka, pengangguran dan kemiskinan akan makin berkurang

Pahlawan Ekonomi memasuki strategi pencapaian achievement phase (fase prestasi) yang berlangsung pada 2013-2015. Sebelumnya, ada tahapan pertama yang menerapkan strategi development phase (fase pengembangan) yang berlangsung pada 2010-2013. Pada tahapan ini, Pahlawan Ekonomi memberikan ruang berekspresi dan komunikasi buat ibu-ibu rumah tangga Surabaya untuk bisa membuat usaha tanpa harus meninggalkan rumah.

“Dalam fase achievement phase, dilakukan upaya-upaya kreatif menyejahterakan ibu-ibu rumah tangga dengan menjadikan pelaku usaha kecil menengah (UKM). Targetnya, mampu bersaing di level regional, nasional, maupun ASEAN,” ujar Bagus Supomo, steering committee Pahlawan Ekonomi..

Kata dia, ada beberapa langkah-langkah strategis telah dilakukan. Di antaranya menyiapkan 45 produk unggulan yang siap bersaing di level ASEAN, 101 usaha unggul mampu bersaing di ritel internasional, 99 produk unggulan bisa bersaing di pasar nasional, dan 234 usaha utama tumbuh dan berkembang di pasar regional.

“Saat ini, Pahlawan Ekonomi sudah memanfaatkan national distribusi channel (jaringan distibusi nasional) dan internet marketing,” jelas Bagus yang juga direktur Surabaya Hotel School (SHS) itu.

Dari tahun ke tahun, jumlah pelaku UKM Pahlawan Ekonomi terus bertumbuh. Hingga penghujung tahun 2015, sebanyak 2.640 UKM bergabung. Jumlah ini mengalami peningkatakan cukup signifikan dari tahun sebelumnya, yakni 1.976 UKM.

Bagus menyakini jumlah ini akan terus bartambah. Mengingat, Pahlawan Ekonomi sekarang bukan hanya diikuti para ibu rumah tangga. “Sekarang, anak-anak remaja dan kaum pria banyak yang ikut pelatihan. Kita terbuka karena desain awalnya menjadi “mesin kedua” yang menghasilkan pemasukan tambahan bagi keluarga,” jelasnya.

Kemudahan Akses

Spirit pelaku UKM Pahlawan Ekonomi untuk belajar dan mengembangkan kualitas diri cukup besar. Pelatihan yang dihelat saban pekan di Kaza City, dengan tiga kategori, yakni Culinary Business, Home Industry, dan Creative Industry, selalu penuh.  Bahkan, beberapa kali komite di Pahlawan Ekonomi harus menambah bahan lantaran pesertanya membludak.

Pun saat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis Program Inklusi Keuangan pada 28 Mei 2015. Program yang berjalan tiga bulan yang memberikan pelatihan literasi keuangan untuk pembiayaan atau investasi, disambut antusias para pelaku UKM Pahlawan Ekonomi.

“Saya belum pernah mengikuti pelatihan seperti ini. Tentu saja saya senang, apalagi semuanya tidak dipungut biaya,” ujar Apsari Listyowati, pelaku UKM Pahlawan Ekonomi.

Dia berharap, bekal pelatihan ini bisa membuat wawasan dan pengetahuan finansialnya bertambah. Sehingga bisa tahu cara untuk mendapatkan keuntungan lebih cepat dan memperbesar usaha.

Hal senada disampaikan Monica Harijati, pelaku UKM Pahlawan Ekonomi lainnya. Dia mengaku masih butuh dukungan untuk mendorong kegiatan usahanya. Saat ini, Monica sudah memiliki usaha roti dan clay.

“Masih sangat butuh pengetahun agar mendorong usaha saya sekarang lebih besar. Saya butuh cara untuk mengelola keuangan yang baik,” tutur Monica, lalu tersenyum.

Antusiasme itu rupanya direspons oleh OJK. Makanya. OJK pun menyasar para pelaku UKM Pahlawan Ekonomi. Direktur Direktorat Pengembangan Inklusi Keuangan OJK, Eko Ariantoro, mengatakan ibu rumah tangga harus diajari cara memilih tepat memilih bisnis keuangan, meningkatkan usaha, hingga memilih berbagai sarana permodalan.

“Mereka juga harus diajarkan agar lebih kreatif dan inovatif untuk membuat produk usaha kecil menengah. Seperti kerajinan tangan, bisnis kuliner, dan UKM setara industri rumahan. Kebanyakan ibu-ibu kalau untung, uangnya disimpan di rumah. Karena itu kita ajarkan untuk menginvestasikan di bank,” ujar dia.

Eko mengakui, program ini digagas untuk memberikan akses tentang berbagai produk keuangan. Ini karena banyak sekali investasi bodong. Ibu rumah tangga dikenalkan pada produk keuangan seperti produk perbankan, pasar modal, asuransi, pegadaian, hingga program pensiun.

Sesuai target OJK, sebut dia, tiap tahun ada 15 juta warga yang mulai mengenal untuk membeli produk keuangan. Dari catatannya, pemahaman masyarakat terhadap literasi keuangan nasional hanya 21,8 persen dari total penduduk Indonesia. Sedangkan masyarakat yang sudah mulai mengenal berbagai produk keuangan inklusi mencapai 59,5 persen.

Berdasarkan Sensus 2010, jumlah penduduk Indonesia 237 juta jiwa. Sebanyak 118,3 juta jiwa di antaranya adalah perempuan. Dari jumlah itu, 74 juta jiwa diperkirakan adalah ibu rumah tangga. Pasar inilah yang akan disasar secara bertahap. OJK juga menarget setiap kota dapat menyasar 500 pelaku UKM di daerah-daerah. “Target OJK meningkat 2 persen per tahun,” cetusnya. (wh/bersambung)