Bentuk Taskforce Kejar Produksi 20 Persen Migas Nasional

FGD peningkatan produksi migas nasional

Focus Group Discussion (FGD) Peningkatan Produksi Migas Nasional di Hotel Shangri-La, Surabaya mulai Senin (2/12/2013) hingga Rabu (4/12/2013), digelar untuk mengejar target produksi migas nasional dari blok migas di wilayah Kabupaten Bojonegoro dengan memangkas 69 jenis perizinan kegiatan hulu migas di tingkat kabupaten menjadi 8 cluster.

Bupati Bojonegoro Suyoto mengungkapkan, pemangkasan itu diharapkan target kontribusi eksploitasi migas nasional di wilayahnya sebesar 20 persen dari total produksi migas nasional bisa tercapai.

“Semua tahapan produksi migas ada di sini, sehingga Bojonegoro berpotensi menyumbang 20 persen produksi migas nasional. Di sinilah kegiatan migas on-shore terbesar di Jawa, dan di tengah kepadatan penduduk,” tambah Suyoto.

Maka dari itu, pembentukan taskforce akan segera dilakukan. Taskforce tersebut akan dibentuk di tingkat kementerian kordinator ekonomi yang melibatkan semua pihak, sehingga terbentuk perizinan satu pintu, baik di Pemprov maupun Pemkab.

“Semua aspek perizinan akan diselesaikan dalam satu paket. Dengan demikian pihak pengusul tidak perlu berhadapan dengan banyak instansi,” jelas Suyoto.

Pengurusan akan diberi target waktu, beserta intensitas komunikasi yang efisien. Ini dilakukan supaya semua perizinan cepat tuntas.

Kepala Bagian Humas SKK Migas Elan Biantoro menambahkan, terdapat 5 wilayah kerja perminyakan di Bojonegoro. Yaitu Blok Cepu (MCL), Blok Sukowati (JOB Pertamina Petrochina), Blok Tiyung biru (Pertamina EP), Blok Kawengan (JOB Pertamina EP), Blok Jambaran Tiyung biru (JOB PEPC). Juga terdapat dua blok baru yang potensial, yakni Blok Nona dan Blok Blora.

“Bila permasalahan di Bojonegoro bisa segera tuntas, kelak bisa menjadi role model bagi penanganan di tempat lain di seluruh Indonesia,” tandasnya.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Wakil Menteri ESDM Susilo Siswo Utomo yang menyempatkan hadir pada Selasa (4/12/2013). Ia mengingatkan bahwa tiap tahun konsumsi BBM akan terus meningkat. Ia memperkirakan, dalam waktu dekat konsumsinya bisa mencapai 1,5 juta barel perhari.

“Sementara produksi dalam negeri baru 830 ribu barel dan yang mampu diolah dalam negeri hanya 635 ribu barel. Praktis impor Indonesia selalu lebih dari 800 ribu bph. Ini jelas akan terus membebani neraca perdagangan nasional,” tukasnya.

Susilo berharap percepatan produksi migas nasional dapat diwujudkan setelah upaya pemangkasan perizinan terwujud.(wh)