Benarkah Tanaman Tidur?

Benarkah Tanaman Tidur?

 

Tidur adalah bagian penting dari kehidupan kita sebagai manusia. Kita melakukannya setiap malam atau siang. Kita juga melihat hewan lain tidur. Mulai kucing, anjing, burung, dan binatang lainnya. Tapi bagaimana dengan tanaman?

Menurut Popsci.com, pertanyaan itu lalu diajukan ke beberapa ahli tanaman. Jawaban singkatnya adalah tidak, setidaknya tidak dalam arti harfiah. Sebab, tanaman tidak memiliki sistem saraf pusat yang menjadi kunci dalam tidur pada manusia. Tetapi, tanaman memiliki siklus sirkadian alias siklus harian yang disetel untuk 24 jam yang mengikuti siklus terang-gelap bumi. Siklus itulah yang mereka pertahankan agar berlangsung, bahkan jika mereka disimpan dalam kondisi cahaya terang secara penuh.

Bagi kami, siklus sirkadian menentukan kapan kita harus tidur dan kapan kita harus bangun. Contohnya, sinar matahari memasuki mata kita setiap pagi dapat memicu sel-sel di otak yang mengontrol kadar hormon melatonin. Tugas hormon melatonin ini sebagian besar adalah mengontrol rasa kantuk. Semakin banyak melatonin, semakin kita mengantuk. Kadarnya mengalami penurunan pada siang hari dan meningkat pada malam hari. Sementara jam tidur utama kita berada di otak, kita juga memiliki gen jam di hampir semua jenis sel di seluruh tubuh dan proses fisiologi penting terjadi saat kita tidur.

Begitu juga dengan tanaman. Ahli Biologi tanaman di Rice University, Janet Braam mengatakan, tanaman mengalami perubahan fisiologis selama setiap tahap dalam sehari. “Ada banyak keuntungan fungsi jam sirkadian pada tanaman dan itu sangat penting,” katanya. Ia mencontohkan, tanaman dapat digunakan sebagai jam untuk dapat memantau panjangnya hari.

Perilaku tanaman, kata Braam, memang dikontrol ketat oleh matahari. “Pada siang hari, tanaman menyerap sinar matahari selama fotosintesis. Ini adalah proses yang mereka gunakan untuk mendapatkan energi. Tapi ketika matahari terbenam, peluang tanaman untuk ‘makan’ menghilang dan proses fisiologis lainnya mengambil alih, termasuk metabolisme energi dan pertumbuhan,” jelasnya.

Tanaman dapat mengantisipasi fajar setiap hari dan mengikuti matahari untuk memaksimalkan potensi fotosintesis mereka. Bunga matahari dalam selang waktu di bawah ini, misalnya, bergoyang bolak-balik saat matahari naik dan turun. Ia pun membungkuk ke arah bola lampu dan bibit bunga matahari yang muncul untuk menari saat mereka meraih sinar matahari.

Tim Braam itu di Rice telah menemukan bahwa ritme sirkadian pada tanaman tertentu juga menentukan ketika mereka meluncurkan pertahanan kimia terhadap predator. Sebuah studi di tahun 2012 pada Arabidopsis, tanaman berbunga yang sejenis dengan kubis, menemukan bahwa siklus sirkadian tanaman membantu menangkal ulat kubis. Satu set tanaman disimpan pada siklus siang/malam yang normal, mencegah saat-saat ulat biasanya makan.

Dalam sebuah studi dari Juni lalu, para peneliti menunjukkan bahwa kubis mempertahankan ritme sirkadian setelah panen. Termasuk siklus produksi bahan kimia yang disebut 4MSO, yang mungkin memiliki sifat anti-kanker.(wh)