Beli 20 Unit ATT dan Docking System, Teluk Lamong Siapkan USD 4,7 Juta

 

Beli 20 Unit ATT dan Docking System, Teluk Lamong Siapkan USD 4,7 Juta

PT Terminal Teluk Lamong (TTL) tahun ini membelanjakan investasi senilai USD4,7 juta untuk melengkapi peralatan di terminal modern pertama di Indonesia itu. Nilai itu terdiri dari pembelian Automotive Terminal Trailer (ATT) sebanyak 20 unit dengan investasi perunitnya US D230.000 ditambah USD100.000 untuk docking system.

Direktur Utama PT TTL Prasetyadi mengungkapkan, saat ini anak perusahaan PT Pelabuhan Indonesia III ini sudah memiliki 50 unit ATT. Dengan rencana penambahan 20 unit ATT baru ini, kedepan PT TTL akan memiliki total 70 unit ATT.

Prasetyadi menyebut peralatan baru ini bisa menekan biaya di pelabuhan. ”Nilai efisiensi yang kita dapat dari pembelian alat ini adalah waktu dan biaya. Efiiensi bongkar muat yang dibutuhkan bisa mencapai 30 boks per jam,” kata Prasetyad kepada wartawan di Surabaya, Selasa (20/01/2015).

Prasetyadi juga menyebut ATT yang hendak didatangkan ini memiliki harga yang jauh lebih murah. Sebelumnya, PT Pelindo III membeli ATT senilai USD3 juta per unit. Sedangkan 20 ATT yang akan didatangkan ini bernilai USD 230.000. ”Jauh lebih hemat dari sisi investasi, dengan spsifikasi yang hampir sama,” lanjutnya.

Pada kesempatan tersebut, PT Terminal Teluk Lamong juga menjajal peralatan docking system. Peralatan ini merupakan otomatisasi di pelabuhan guna memercepat proses bongkar muat. Docking system ini terintegrasi dengan ATT untuk memandu pergerakan ATT.

Docking system ini menggunakan kabel sensor yang ditanam di bawah tanah sepanjang 600 meter. Melalui fasilitas sensor itu, pengemudi ATT pada jarak tertentu tidak perlu menggerakkan kemudinya, karena sudah dipandu dengan software yang dibeli dari Gaussin Manugistique.

Direktur Utama PT Pelindo III Djarwo Surjanto menyatakan pembelian peralatan ini merupakan tindak lanjut dari kerjasama dengan Gaussin Manugistique melalui joint venture.

”Kerja sama ini kita harapkan bisa mengantisipasi kebutuhan otomatisasi kerja operasional logistik dan infrastruktur untuk mendorong perekonomian di pelabuhan,” terang Djarwo.

Joint venture otomatisasi pelabuhan ini juga untuk perakitan, komersialisasi, pemasaran, distribusi alat di TTL yang salah satunya berupa ATT dan docking system.

Chief Operating Officer Gaussin Manugistique Stephane Hecky mengaku bangga dipercaya oleh salah satu badan usaha milik negara (BUMN) di bidang kepelabuhanan. Pihaknya berupaya melengkapi dengan sistem manajemen transportasi berupa software sehingga dapat menambah kecepatan dan keakuratan dalam proses operasional. (wh)