Belajar Melukis Scribble di Lodji Besar

Belajar Melukis Scribble di Lodji Besar

Para peserta Workshop Melukis dengan Teknik Scribble di Lodji Besar, Jumat (27/1/2017) malam. foto: arya wiraraja/enciety.co

Gelak tawa menyeruak di dalam bangunan Lodji Besar yang berumur 110 tahun di kawasan Makam Kuno Belanda di Jalan Peneleh, Surabaya. Sebanyak 20 orang sedang asik mencorat-coret kertas putih dengan menggunakan pensil. Mereka juga berdiskusi terkait coretan gambar yang mereka kerjakan. Salah satunya Robi Darmawan, pria asal Krian, Mojokerto. Dia mengikuti pelatihan melukis scribble.

“Melukis scribble ini ternyata mudah. Kita tidak harus menguasai teknik mencampur warna. Cukup tahu teknik gradasi warna terang dan gelap kita dapat menghasilkan lukisan bernilai seni tinggi,” tutur Robi di sela Workshop Melukis dengan Teknik Scribble di Lodji Besar, Jumat (27/1/2017) malam.

Robi mengaku tidak datang sendiri, tapi bareng keluarga. “Mumpung anak-anak besok pada libur saya ajak sekalian ke sini. Tujuannya, selain mengisi waktu senggang untuk hal yang berguna, mulai dini mereka saya kenalkan pada seni,” tegas Robi yang berprofesi sebagai pegawai swasta itu.

Rahmad Prihandoko, pelukis scribble asli Surabaya yang menjadi instruktur, menuturkan bahwa melukis dengan menggunakan teknik scribble ini tidaklah sulit.

Di hadapan para peserta, Cak Mad, begitu ia karib disapa, menjelaskan bahwa dalam teknik scribble pelukis di anjurkan untuk mencoret ke segala sisi. Hal itu dikarenakan dalam teknik scribble coretan bukan sebuah kesalahan dalam menggambar.

“Karena, coretan yang kita hasilkan adalah bagian dari lukisan bernilai seni tinggi,” terangnya.

foto:arya wiraraja/enciety.co

Para peserta yang hadir dalam pelatihan tersebut lantas terheran mendengar penjelasan dari sang pelukis. Pasalnya, dari kecil kita diajarkan, bahwa lukisan yang indah itu terdiri dari berbagai garis yang teratur dan dipadu dengan berbagai warna yang indah. Namun dalam teknik lukis scribble, seorang pelukis di anjurkan untuk tidak ragu dalam mencoretkan pensilnya.

“Namun, sebelum itu, kita harus paham teknik dasar scribble. Di antaranya memahami warna gelap dan terang. Karena dengan menguasai teknik tersebut, kita dapat membuat lukisan tiga dimensi. Disinilah kelebihan dari melukis dengan teknik scribble,” kata Cak Mad.

“Kita tidak hanya sekadar melukis seperti kebanyakan orang yang lebih mengutamakan teknik mencampur warna yang nantinya dapat menghasilkan lukisan dua dimensi,” imbuh ayah dari satu anak ini.

Menurut Cak Mad, teknik scribble sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, teknik ini mulai populer di Indonesia kurang lebih sejak tahun 2014. Dalam acara tersebut, banyak para peserta yang sangat kesulitan untuk melukis dengan teknik scribble. Akan tetapi dengan ketelatenan, ketekunan, dan rasa percaya diri, akhirnya para peserta berhasil menciptakan karya seni lukis lewat teknik scribble yang diajarkan oleh Cak Mad.

“Kuncinya adalah percaya diri. Kita memiliki konsep untuk menciptakan lukisan scribble. Ketika kita mampu menguasai teknik melukis scribble, sudah pasti kita mampu menghasilkan karya seni yang bernilai tinggi,” tegas dia.

Di akhir pelatihan, ia juga berharap para peserta yang telah mengikuti pelatihan dan mampu menghasilkan karya seni lukis scribble, mampu berlatih dan mengembangkan kemampuannya.

“Karena para peserta bukan hanya menyalurkan hobi melukis, tpai bisa jadi profesi yang menghasilkan pemasukan,” pungkas dia. (wh)