Belajar Kelola Sampah dari Jepang dan Swedia

Belajar Kelola Sampah dari Jepang dan Swedia

Beno Sutrisno (Departemen Organisasi dan Keanggotaan Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia), Randy Budi Saputra (Bendahara Umum Pusat Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia), Steven Jansen Tasik, (Ketua Harian Komisariat Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) Jatim) dan Kresnayana yahya, Chairperson Enciety Business Consult. foto: arya wiraraja/enciety.co

Dinegara-negara maju,  seperti Swedia dan Jepang, sampah mendapatkan perlakuan khusus. Tidak hanya sekedar memilah kelola sampah dalam dua jenis organik dan non organik, pemilahan sampah dinegara-negara yang telah maju menjadi semakin lebih detail. “Diantaranya memilah sampah plastik, sampah rumah tangga, sampah hasil peternakan, sampah logam dan bahkan hingga sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun. Semua itu telah melalui proses pemilahan yang sangat detail,” ujar Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult ketika memandu acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (7/4/2017).

Lebih lanjut Kresnayana mencontohkan pengelolaan sampah di negara Swedia. Di negara maju seperti Swedia, perusahaan yang mengurus kelola sampah diberikan kewajiban ganda dengan mengurus ketersediaan air minum. “Konsep tersebut sangatlah bagus. Meskipun sangat bertolak belakang, namun saling berhubungan. Karena, dengan mengelola sampah dengan baik maka kita juga dapat menjamin ketersediaan air minum yang berkualitas,” kupas dia lagi.

Sebagai perbandingan, di Kota Surabaya sendiri yang saat ini merupakan salah satu kota di Indonesia yang menghasilkan  sampah jumlahnya sekitar 2.900 ton per hari.  Dari jumlah itu, sekitar 1.500 ton sampah yang berhasil diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). “Sebagai catatan, di tempat pembuangan sampah yang berada di Jambangan saban harinya ada 20 ton yang berhasil dikumpulkan. Lalu di tempat pembuangan sampah Sutorejo ada sekitar 15 ton sampah yang dapat dikumpulkan,” kupas Kresnayana yang juga merupakan pakar Statistika ITS Surabaya itu.

Kata dia, angka-angka tersebut menandakan, jika proses pengumpulan sampah ulang sampah performanya harus terus ditingkatkan lagi. Mengingat dari jumlah 2.900 ton sampah yang tiap hari berhasil dikumpulkan hanya 1.500 ton yang berhasil diangkut ke TPA. “Dari sekian ribu ton sampah, memang lebih dari 50 persen yang saat ini berhasil kelola sampah di TPA. Namun jangan lupa, kedepan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, performa pengelolaan sampah ini juga harus ditingkatkan pula,” tegas dia lagi.

Disatu sisi, pengelolaan sampah di Kota Surabaya saat ini dapat dibilang telah lebih berkembang. Bahkan saat ini, di Kota Surabaya,  sampah bukan lagi dijadikan produk-produk yang dapat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. “Kini Kota Pahlawan telah berupaya untuk memanfaatkan sampah menjadi sebuah sumber energi berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT),” terang dia. (ram)