Belajar Hal Besar dari Usaha Kecil

Belajar Hal Besar dari Usaha Kecil

Unung Istopo Hartanto, peneliti senior Enciety Business Consult

Banyak ragam penjual penganan di depan Pasar Wonorejo Rungkut tak menghalangi perhatian saya pada kios kecil yang menyediakan susu kedelai. Penjualnya seorang perempuan paro baya. Dia melayani pembeli dengan ramah. Menanyakan sesuatu dan tak jarang mengajak berdiskusi.

Suatu hari, karena penasaran, saya ikut antre . Membeli satu botol susu kedelai ukuran 600 ml. Saat itu, dia sedang bercerita proses pembuatan minuman menyehatkan kepada pelanggan lain. Mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, dan penggunakan bahan alami, non pengawet, serta tidak mencampurkan bahan pemanis tambahan.

Menurut wikipedia, minuman yang berasal dari China dan lazim dihidangkan bersama dengan cakue ini, mengandung 80 kcal dari karbohidrat 4 gram (termasuk gula 1 gram), lemak 4 gram, dan protein 7 gram. Sari kedelai yang diproses mengandung vitamin A, vitamin B, dan vitamin D, dengan kandungan kalsium dan magnesium yang signifikan pula.

Kandungan dan khasiat susu sari kedelai ini juga salah satu yang menjadi alasan pelanggan membeli lagi. Tentu dengan memperhatikan kualitas produknya. Karena memang banyak sekali penjual lain yang menawarkan produk yang sama.

Minggu kemarin, saat membeli, perempuan penjual susu kedelai mencatat di buku kecilnya. Menanyakan, lusa yang membeli atas nama siapa, dan rumah di mana. Selain menjamin kualitas produk, diia juga menjaga loyalitas pelanggan. Menarik sekali. Belajar hal besar dari usaha kecil.

Dalam perbincangan sebelumnya, perempuan penjual susu kedelai ini mengaku merintis usaha cukup lama. Awalnya, hanya sampingan saja. Megisi waktu luang. Karena waktu itu dia masih berstatus karyawan swasta. Akhirnya, atas izin suami, dia fokus menjalankan usaha ini. Sekarang, sudah dua kios kecil di Rungkut dan Sukolilo yang dijalankan. Karakter keteguhan dia dalam berusaha cukup menginspirasi.

Pengalamannya bekerja sebagai karyawan yang meletakkan kekuatan produk pada feature, performance dan price, bukanlah satu-satunya yang diyakini membawa sukses bisnis hari ini. Namun ada experience dari pelanggan yang meninggalkan hal yang memorable, persepsi kualitas yang kuat. Dan yang tak kalah penting co-production, kolaborasi, ikatan kebersamaan, interaksi antara penjual dan pembeli (perusahaan dan pelanggannya) untuk menghasilkan value yang berguna untuk kedua belah pihak.

Meski kita sadar dan pahami bahwa usaha produksi ini juga tetap memperhatikan ketersediaan bahan baku kedelai lokal. Jawa Timur mencatat, pada awal 2020, masih ada penurunan produksi kedelai. Salah satu faktornya penyusutan lahan kedelai dan kurang berminatnya petani menanam kedelai. Baik karena ongkos produksi maupun harga jual yang tidak mendukung. Saat ini harga kedelai yang terpantau dari site Provinsi Jawa Timur cukup variatif antarkabupaten/kota penghasil, mulai 7.200 hingga 12.500 per kg. Padahal di satu sisi demand atau konsumsi terhadap pangan olahan berbahan baku kedelai ini cenderung tumbuh.

Distribusi produksi kedelai di Jawa Timur, menurut data BPS, masih dominan di Kabupaten Blitar, Banyuwangi, Nganjuk, Bojonegoro, Bangkalan, Sampang dan Sumenep, dengan rata-rata produksi masih di atas sepuluh ribu ton pada publikasi 2018. Jawa Timur tentu terus berupaya menjaga komoditas ini. Sebagai provinsi yang dikenal sentra kedelai di Indonesia.

Pada sisi lain, usaha kecil yang bergantung pada komoditas ini tentu berharap ketersediaan aman dan harga terkendali. Rantai produksi dan konsumsi ini yang akan terus membuat laju ekonomi makin baik, dan masyarakat juga makin sehat dan meningkat kualitas hidupnya. Semoga. Salam. (*)