Belajar di Witrove, Bu Nyai Lampung Bawa Pulang Tas Eceng Gondok Hasil Pelatihan

Belajar di Witrove, Bu Nyai Lampung Bawa Pulang Tas Eceng Gondok Hasil Pelatihan

Bu Nyai Lampung di workshop Witrove.foto:arya wiraraja/enciety.co

Tak sia-sia 40 orang Bu Nyai dan Pengasuh Pondok Pesantren Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Lampung datang ke Surabaya. Mereka banyak mendapatkan pengalaman dan ketrampilan baru. Usai mengikuti pelatihan membuat cookies, hidroponik, membatik, kini mereka dilatih membuat tas dari bahan limbah eceng gondok.

Kegiatan tersebut digelar di Gerai Witrove di Perumahan Kebraon Indah Permai, Surabaya, Jumat (23/8/2019). Pelatihan dipandu Supardi dan Wiwit Manfaati, pasangan suami istri pemilik Witrove. Wiwit juga mentor Pahlawan Ekonomi Surabaya.

Supardi lebih dulu menanyakan ketersediaan bahan baku eceng gondong di Lampung. “Ternyata Lampung punya banyak eceng gondok. Hanya belum dimanfaatkan maksimal,” katanya.

Tas eceng gondok yang diajarkan dalam pelatihan tersebut merupakan produk eksklusif. Dijual di pameran dan pusat perbelanjaan. Ukurannya,  lebar 20 cm, tingginya 17 cm, dan tebal 9 cm.

Dia lantas menjelaskan langkah-langkah produksi. Pertama, mengolah bahan eceng gondok. Kedua, menganyam eceng gondok. Ketiga, membuat hiasan kerang. Keempat, finishing dengan cara memasang tali tas dan merapikan anyaman eceng gondok.

Para Bu Nyai yang ikut pelatihan ini sama sekali belum pernah menyulam eceng gondok. Karenanya, Supardi tidak membebani mereka sampai selesai. Berikutnya, para Bu Nyai diberi tas eceng gondong yang sudah dianyam. Mereka lantas diajari cara membuat hiasan kerang. Berikut memasang handle dan dalaman tas. Para Bu Nyai girang lantaran tas-tas yang dibuat saat pelatihan itu bisa dibawa pulang.

Belajar di Witrove, Bu Nyai Lampung Bawa Pulang Tas Eceng Gondok Hasil Pelatihan
foto:arya wiraraja/enciety.co

Menurut Supardi, inti dari tips-tips yang kami berikan ini tidak bisa instan, “Belajar tidak bisa sekali dua kali. Yang penting sekarang dicoba dulu,” ajak Supardi.

Para Bu Nyai sangat antusias mengikuti pelatihan itu. Mereka mengikuti tahapan demi tahapan yang diberikan membuat tas eceng gondok. Mereka juga tak segan bertanya bila tidak mengerti.

Supardi berharap, setelah mengikuti kegiatan pelatihan, Bu Nyai dan pengasuh pondok pesantren RMI NU Lampung dapat meningkatkan kemampuannya untuk memproduksi olahan limbah eceng gondok di daerah asal.

“Saya dulu merintis usaha bersama istri (Wiwit Manfaati, Red) juga melewati perjuangan. Saya mulai dari minus. Kami punya utang. Tapi berkat terus berusaha dan berdoa. Alhamdulillah, usaha sekarang bisa maju dan berkembang,” tutur Supardi. (wh)