Belajar Data dari Sebuah Perjalanan

Belajar Data dari Sebuah Perjalanan

Unung Istopo Hartanto, peneliti senior Enciety Business Consult

Perjalanan minggu lalu, dari Desa Kraton, Kecamatan Maospati, Magetan, ke Desa Sumberbendo, Kecamatan Saradan, Madiun cukup menarik untuk dikupas. Perjalanan dari wilayah dataran rendah dengan ketinggian 74-185 meter di atas permukaan laut ke daerah yang didominasi hutan jati, dengan ketinggian 300-400 meter di atas permukaan laut.

Sepanjang perjalanan darat terlihat dampak pembangunan tol Ngawi-Kertosono yang berjarak 1-2 km utara jalan nasional ini, serta kondisi pandemi yang belum berakhir. Banyak ditemui rumah makan yang tutup dan pindah. Tentu ini menjadi tantangan dan peluang. Karena tampak, ada pula pergerakan proyek pelebaran jalan yang tentunya akan memberikan ruang lebih bagi mobilitas orang dan barang.

Curah hujan yang masih tinggi juga terlihat dari penuhnya air waduk Saradan. Tampak beberapa bagian jadi kolam pancing. Konon, menurut penduduk setempat, beberapa bagian waduk saat musim kering bisa ditanami padi karena airnya menyusut.

Setelah melewati pos polantas Lemah Bang dan Jembatan Tol Lemah Bang, di mana kita bisa melihat ke bawah pemandangan Rest Area Tol Perhutani Saradan KM 626 B. Perjalanan lumayan naik turun ekstrim dengan pemandangan alam di bawahnya membuat tak henti berucap rasa syukur atas nikmat Tuhan yang diberikan akan kekayaan alam ini. Kurang lebih 1,5 jam dengan kecepatan sedang, sampailah di lokasi yang dituju, yang berjarak 55,6 kilometer ini. Berhenti kami di Desa Sumberbendo yang memiliki udara sejuk dengan titik-titik sumber air.

Yang bikin kangen, bukan hanya sambutannya saja yang ramah, namun juga sajian penganan khasnya. Kacang rebus, keripik pisang, dan onde-onde hitam mengawali perbincangan hangat kami. Mulai dari diskusi ringan soal keluarga, bagaimana warga desa guyub membangun tempat ibadah, menjaga tradisi, bersama mahasiswa KKN membangun wisata baru hingga ngobrol soal porang.

Porang atau ules-ules ini potensi khas Sumberbendo sejak tahun 1970-an hingga sekarang. Porang dibudidayakan di lahan perhutani dan cukup membantu perekonomian warga. Pemerintah sangat mendukung karena ekspornya tinggi, sebagai bahan pangan Jepang dan China. Tentu berharap bukan ekspor bibit atau mentah, tapi setengah jadi. Bibit umbi porang atau disebut katak ini sudah cukup tinggi harganya.

Diskusi terhenti karena si empunya rumah mempersilakan masuk ke rumah joglo, beralaskan tikar untuk makan bersama. Nasi putih lengkap dengan kare ayam khas olahan sendiri, ditemani nasi gaplek, botok pedas (kacang) koro dan urap daun pepaya pedas pahit. Rasanya tak ingin pindah tempat duduk dan terus memastikan piring terisi semua sajian itu. Hingga semuanya berucap alhamdulillah dan meneruskan perjalanan untuk sejenak melepas lelah. Berendam di pancuran pitu, menikmati suasana alam, mendengar campursari khas Saradan dari musik cafe di tengah hutan ini. Serta masih mampu update media sosial. Karena selain kopi, teh panas serta mie rebus, cafe pancur pitu juga menyediakan sewa wifi 24 jam hanya dua ribu perak.

Keragaman kabupaten dan kota di Jawa Timur ini memang selalu menarik untuk dikupas, dipelajari, dan menjadi kekuatan pengembangan strategis wilayah di masa mendatang. Khususnya potensi pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan, yang menjadi dasar kekuatan kompetensi inti industri. Perencanaan strategis wilayah yang harus didasari pada kekuatan data dan fakta. Memahami sejarah dan kondisi kearifan lokal. Bukan hanya terjebak pada trend semata. Pijakan data haruslah kuat dan mendasar, sehingga memberikan arah pengambilan keputusan yang tepat.

Perjalanan ini bukan hanya sebuah perjalanan dari Kraton ke Sumber Bendo, atau dari Magetan ke Madiun. Namun perjalanan ini juga bagian dari selalu berupaya senantiasa belajar, memperhatikan tanda-tanda yang diberikan oleh Tuhan.

Salam. (*)