Belajar dari Jepang Berdayakan Kaum Lansia

Belajar dari Jepang Berdayakan Kaum Lansia

 

Tingginya Angka Harapan Hidup (AHH) di Jepang tak membuat negara itu terlena. Sebagai negara maju, usia hidup warga Jepang merupakan yang terpanjang di dunia. Pakar keperawatan Japan International Cooperation Agency (JICA), Kumiko Igarashi memaparkan rancangan pemerintah merawat kaum lanjut usia (lansia) dalam seminar Kajian Batas Usia 60 Tahun Penduduk Lanjut Usia di Indonesia, di Hotel Grand Trawas, Mojokerto Kamis (27/3/2014) malam.

Di Jepang, AHH lansia laki-laki mencapai 79,3 tahun. Sedangkan perempuan mencapai 86 tahun. “Populasi lansia usia 65 tahun kami mencapai 7 persen. Diprediksikan bakal meningkat dua kali lipatnya dalam kurun waktu 22 tahun,” ungkapnya.

Seiring jumlah lansia yang tinggi tersebut, Jepang pun menghadapi persoalan demensia (kepikunan). Tercatat peningkatan dengan demensi sebanyak 280 juta orang di tahun 2010. Diperkirakan di tahun 2025, jumlahnya mencapai 470 juta orang.

Negeri Sakura itu juga menemui permasalahan kependudukan yang serius. Piramida penduduknya akan memiliki bentuk segitiga terbalik dengan pertumbuhan populasi berusia 65 ke atas, jauh melebihi generasi bayi dan angka kelahiran yang menurun.

“Hal ini diperburuk dengan fakta bahwa generasi muda Jepang jarang yang ingin menikah dan memiliki anak. Seandainya memiliki anak, mereka memilih memiliki satu anak saja,” ungkapnya.

Begitu sang anak beranjak dewasa dan tinggal di kota untuk bekerja, orangtuanya mulai terabaikan. “Orang-orang lansia ini mayoritas tinggal di pedesaan. Tidak ada yang merawat mereka,” katanya.

Untuk itu, Negeri Sakura merancang grand design hingga tahun 2025 khusus lansia. Igarashi menyebutnya sebagai Community-Based Facilities. “Sistem perawatan berbasis komunitas yang komprehensif perlu dibentuk, untuk memperkuat perawatan berbasis rumah, di samping jasa institusional tertentu,” jelasnya.

Fasilitas itu diklasifikasikan menjadi 3 tipe yang dibuat untuk memberdayakan para lansia. Yakni kinasse (single house), yoriai (multiple house), dan  sendann no mori (satellite).

Pada setiap fasilitas tersebut, akan dipetakan lagi ke dalam beberapa tipe pelayanan. Setiap lansia pun memiliki relawan (careworker) yang datang setiap saat, terutama apabila mereka membutuhkan penanganan medis khusus.

Karena fasilitas pemerintah Jepang itu didesain berdasarkan komunitas, peran masyarakat menjadi kunci utama. Igarashi menggarisbawahi dukungan lingkungan sekitarnya, harus kondusif. “Di negara kami, para lansia dirancang untuk tinggal di sebuah institusi dekat dengan kawasan Sekolah Menengah Pertama (SMP),” tuturnya.

Anak-anak SMP itu akan datang ke tempat lansia untuk melakukan aktivitas bersama guna memperlambat demensia yang diderita. “Mereka mengajak para lansia mengobrol, membuat keterampilan, hingga mengantar mereka pulang. Itu bagian dari pembelajaran komunikasi lintas generasi,” urainya.

Selain itu, masyarakat sekitar dibangun agar memiliki kepedulian yang sama terhadap lansia. “Para tetangga di lingkungan lansia saling mengenal, sehingga mereka hafal lansia mana yang sudah pikun. Dengan begitu, mereka tolong menolong ketika orang itu kebingungan,” terangnya.

Igarashi lantas memberikan gambaran bahwa lansia tak boleh dipinggirkan kendati kemampuan kognitif mereka telah berkurang. Sebaliknya, mereka bisa diberdayakan. “Memberdayakan mereka bukan bersaing dengan pekerja muda. Namun lebih pada pekerjaan ringan supaya mereka tetap merasa dihargai. Seperti menjadi tukang sapu, petugas perpustakaan, dan lain-lain,” pungkasnya.(wh)