Belajar dan Mempelajari Cara Belanja

Belajar dan Mempelajari Cara Belanja

Unung Istopo, peneliti senior Enciety Business Consult

Belanja dalam definisi sederhana adalah mengunjungi stan, toko, atau website untuk membeli sesuatu atau barang. Aktivitas ini seringkali identik dengan wanita, ibu-ibu, atau gadis. Seringkali ayah atau kakak bila ketemu di pasar atau mal saling menyapa,”Lagi antar istri, ya?” atau ”Lagi antar adik, ya?” Memang faktanya belum tentu demikian. Jika kita tak boleh mengatakan sebuah dominasi.

Dahulu, pasar merupakan tempat berkumpulnya orang untuk menjual hasil bumi (petani) atau hewan ternak. Saat mata uang belum ada, mereka saling bertukar barang (barter). Juga ada hari-hari tertentu yang dikenal dengan hari pasaran, yang menentukan lokasi pasar.

Yang menarik lagi, saat itu bukan hanya komoditas utama yang dijual, tapi juga barang lain (small business). Semuanya saling mendukung satu sama lain. Inilah yang menjadi awal bangkitnya pasar tradisional.

Letak pasar di pusat kota atau kecamatan juga membuat interaksi lebih hidup. Perputaran uang dan distribusi barang memicu laju perekonomian. Makin modern, pasar pun makin cerdas, makin bersih, dan makin lengkap. Pasar bukan lagi menjadi tempat bertemunya petani dengan pembeli, tapi lebih kuat mempertemukan distributor atau pedagang dengan pembeli.

Petani tak lagi paham atau peduli bagaimana hasil kerja kerasnya bisa tampil lebih mewah dengan merek dan proses uji kualitas panjang. Hingga akhirnya muncul konsep pemasaran atau marketing, sebuah konsep yang mempelajari perilaku berbelanja. Mempelajari bagaimana cara pasar mampu menarik pembeli yang tepat.

Saat generasi digital muncul, pasar makin menarik lagi. Sebuah riset di Amerika menunjukkan, lebih dari 80 persen shopper muda memanfaatkan smartphone untuk berbelanja lebih smart.

Sebaliknya, ketika belanja online makin tinggi, ternyata kita masih rindu berjalan menyusuri lorong-lorong Pasar Bong, Pasar Atom atau Ampel di Surabaya Utara. Menyusuri keramaian di Pasar Soponyono di Surabaya Timur, atau berjalan di tengah sedapnya “aroma” Pasar Pucang Anom.

Menurut data Enciety Business Consult, lebih dari 80 pasar tradisional di Surabaya itu perlu sentuhan lagi. Tidak harus menjadi modern. Tapi hanya perlu menjawab profil pembeli yang terus berubah dan makin cerdas. (wh)