BEI: Pelepasan Saham Berdasar Kekayaan Bersih

BEI: Pelepasan Saham Berdasar Kekayaan BersihBursa Efek Indonesia (BEI) akan menerapkan peraturan baru. Sebelum perusahaan melepas saham ke publik melalui mekanisme penawaran umum perdana saham (IPO), harus berdasarkan ekuitas atau kekayaan bersih perusahaan.

“Tujuannya untuk meningkatkan likuiditas. Makin rendah ekuitas perusahaan, jumlah saham yang beredar (free float) bisa semakin banyak, begitu pun sebaliknya,” ujar Direktur Utama BEI Ito Warsito di Jakarta, Senin.

Ia mencontohkan ekuitas perusahaan nilainya di bawah Rp500 miliar maka batasan minimum yang dilepas ke publik sebesar 20 persen.

Sementara itu, untuk perusahaan dengan ekuitas senilai Rp500 miliar–Rp2 triliun, jumlah saham yang dilepas ke publik sebanyak 15 persen. Dan, ekuitas perusahaan sebesar Rp2 triliun ke atas sebesar 10 persen.

Aturan itu akan diterapkan bagi perusahaan yang baru mengajukan IPO pada tahun 2014. Namun, bagi perusahaan yang sudah mengajukan IPO pada tahun 2013 belum dikenai peraturan itu.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen mengatakan bahwa aturan itu akan diterbitkan dengan tujuan untuk menambah jumlah saham beredar sehingga dapat meningkatkan likuiditas pasar modal domestik.

“Diskusi-diskusi sudah dilakukan, sekarang sudah tahap akhir,” ucapnya.

Hoesen menambahkan, perusahaan yang sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia juga akan ada batasan minimum saham yang beredar.

Sekarang sudah ada sekitar 50 emiten yang melepas saham ke publik dalam porsi kecil. Melalui aturan itu, BEI yakin likuiditas di pasar saham akan meningkat nantinya. (ant/bh)