BEI Luncurkan Program Nabung Saham Modal Sampah

BEI Luncurkan Program Nabung Saham Modal Sampah

foto: humas bei

Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Timur bersama dengan PT Indopremier Sekuritas (IPOT) Cabang Surabaya dan Galeri Investasi Syariah (GIS) BEI Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), meluncurkan program Nabung Saham Modal Sampah (Assalam), Senin (30/12/2019).

Program tersebut berkegiatan mengubah sampah menjadi uang dan akan diinvestasikan dalam bentuk saham bagi mahasiswa.

Program ini dapat menjembatani dan menjadi solusi permasalahan mahasiswa milenial yang sangat berminat terhadap investasi saham namun terkendala masalah keuangan.

“Program ini telah mendapatkan apresiasi dari Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri), melalui pencatatan rekor sebagai kegiatan menabung saham dari penjualan sampah oleh 5.145 mahasiswa. Program Assalam ini merupakan perpaduan kegiatan learn, care, and invest,” ujar Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Jawa Timur Dewi Sriana, disela acara.

Learn, kata dia, karena mahasiswa akan dibekali pengetahuan tentang pasar modal dan produk-produknya, khususnya saham. Sehingga mahasiswa dapat memahami dengan benar dan mengetahui risk and return produk saham sebelum memutuskan membeli atau menjual.

Care, sambung dia, karena mahasiwa diajak untuk membangun budaya peduli lingkungan dan mendukung kampanye Go Green, yang merupakan upaya untuk menyelamatkan bumi dari global warming yang disebabkan karena adanya penumpukan sampah.

“Jadi dalam program ini, mahasiswa tidak sekedar berusaha mendapatkan uang untuk modal investasi, tetapi juga menjadi sebuah tindak nyata implementasi kebersihan sebagian dari iman,” paparnya.

Invest, terang Dewi, karena mahasiswa akan diajak menabung saham secara rutin dan berkala sesuai tujuan gerakan” Yuk Nabung Saham”.

Sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan untuk menunjang pelaksanaan program Assalam, maka BEI melakukan Corporate Social Responsibility (CSR) dengan menyerahkan bantuan berupa satu unit motor roda tiga.

“Dengan adanya motor ini maka pengangkutan sampah ke pengepul menjadi lebih cepat karena tidak perlu menunggu  pengepul datang ke kampus,” cetusnya.

Satu unit mesin penghancur plastik diperlukan untuk menghancurkan limbah plastik terlebih dulu agar harganya lebih meningkat. Satu unit timbangan digital diperlukan untuk mempercepat penimbangan barang-barang sampah yang dijual ke Bank Sampah Syariah (BSS), karena saat ini BSS hanya memiliki satu buah timbangan kecil

Menurut Dewi,  dengan bantuan tersebut, program Assalamini diharapkan dapat dilaksanakan dengan baik dan berkelanjutan, sehingga dapat memberikan dampak positif bagi pasar modal Indonesia.

“Karena makin banyak mahasiswa yang terbantu dalam mendapatkan pendanaan untuk digunakan dalam berinvestasi di pasar modal, sehingga dapat meningkatkan jumlah investor pasar modal di Indonesia, sekaligus memicu keaktifan investor untuk berinvestasi saham,” tegas Dewi. (wh)