Beginilah Cara Bu Risma Mengajar di Sekolah

Beginilah Cara Bu Risma Mengajar di Sekolah

 

“Ayo dengarkan ibu sebentar, ibu mau bicara,” seru perempuan paro baya berkerudung hitam dari depan kelas. Ibu Guru itu lalu memulai kisahnya dengan bercerita masa-masa sekolahnya dulu.

“Jaman ibu dulu belum ada HP. Sekarang ini kalian bisa buka internet, mencari macam-macam. Pesan ibu, itu kalian manfaatkan untuk memudahkan belajar dan meningkatkan prestasi. Jangan dimanfaatkan untuk hal yang tidak-tidak. Ingat nasihat dari guru dan orang tua,” pesannya. Suaranya harus bersaing dengan celoteh bocah-bocah kelas 6 SD di ruangan itu.

Guru istimewa tersebut adalah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Risma,demikian ia akrab disapa, cukup sering menyempatkan diri terjun langsung untuk memberikan sosialisasi kepada pelajar di SD Kristen Petra 9. Namun, tak semua sekolah beruntung didatanginya.

“Dari sekian jadwal, nanti Bu Wali sendiri yang memilih mengajar di sekolah mana. Tergantung kasus dan lokasinya,” ujar kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas), Nanies Chaerani, Senin (17/2/2014).

Nanies, beserta Kepala Dinas Pendidikan, M. Ikhsan dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Antiek Sugiharti, mendampingi rombongan Risma. Tampak pula Kepala Bagian Humas, M. Fikser dan Kepala Bagian Umum dan Protokol, Wiwiek Widiyanti.

Program sosialisasi ini merupakan tugas dari Gugus Tugas Kota Layak Anak yang berada di bawah kordinasi Bapemas. Tahun ini, Bapemas menargetkan sebanyak 300 sekolah untuk mendapatkan sosialisasi. “Kami setiap minggu keliling sosialisasi. Biasanya diisi petugas dari Bapemas, psikolog, bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional,” lanjut Nanies.

Usai menebar pesan agar berhati-hati saat berselancar di dunia maya, Risma memperbolehkan anak-anak untuk bertanya. Riuh ramai belasan siswa sontak berebut untuk maju dan berdiri di sampingnya. “Namamu siapa, nak?” tanya Risma lembut. “Dave, bu,” jawabnya tersipu-sipu.

“Kamu mau tanya apa, nak?” tanya Risma. “Bu, teman saya itu ada yang ngancam kalau nggak dikasih contekan. Saya harus gimana?” ujarnya polos. Risma lalu menatap mata Dave dengan tajam. “Kalau kamu tetap ngasih contekan ke temanmu, nanti ngajari temenmu malas. Kalau nyontho, ga ada tantangan untuk berhasil,” tegas Risma.

Setelah mengajar di sekolah, Risma mengatakan, pemerintah kota Surabaya mengadakan program tersebut untuk melindungi generasi muda Kota Pahlawan. “Kita ada program ini sejak 2011. Tapi aku sadar, kita nggak bisa sendiri saja. Harus mengerahkan dari semua sisi, baik keluarga maupun sekolah,” paparnya. Menurutnya, hampir semua kasus remaja dan anak-anak yang ia temukan bermula dari lemahnya kekuatan ikatan keluarga. “Basic-nya keluarga harus kuat,” imbuh Risma.(wh)