Begini Siasat Petani Pakal dan Benowo Atasi Kekeringan

Begini Siasat Petani Pakal dan Benowo Atasi Kekeringan
Sawah di Pakal yang subur tanpa alami kekeringan. foto: umar alif/enciety.co

Musim kemarau bagi pertanian kota Surabaya yang menyebabkan kekeringan di 40 hektar di kelurahan Made kecamatan Lakarsantri ternyata tidak berlaku di kecamatan Pakal dan kecamatan Benowo. Di kawasan ini, dua kelurahan yang menjadi tempat kawasan pertanian di Surabaya Barat, sawahnya telah sebagian panen dan sebagian lagi memasuki bulan pertama musim tanam.

Wiyoto salah satu petani di kelurahan Raci kecamatan Pakal saat ditemui enciety.co, mengatakan bila pihaknya telah panen dan telah menanam padi untuk  kedua kalinya usai musim penghujan tahun ini. “Sawah sini sudah panen dan ini sudah tanam ke dua. Selama ini baik saja walau musim kemarau di Surabaya,” tuturnya, Kamis (30/7/2015).

Ia menambahkan, sebenarnya para petani sudah terbiasa dengan keadaan iklim di Indonesia yang hanya mengenal dua musim yaitu panas dan penghujan. Jadi, para petani lainnya harusnya sudah terbiasa dengan keadaan ini. “Seperti kami yang mempunyai sumur dan memakai sistem saluran untuk mengairi sawah kami hingga tidak kekeringan,” ujarnya.

Senada dengan Wiyoto, salah satu petani di Sumberejo, Mustain mengatakan sawah pertanian di tempatnya menggunakan air tambak yang disalurkan ke areal pertanian warga. “Kami tidak alam kekeringan. Mungkin di tempat lain, petani tidak memakai cara ini,” kata Mustain.

Kepala dinas pertanian kota Surabaya Djoestamadji mengatakan ada 40 persen sawah di kota Surabaya yang tidak bisa berproduksi karena alami kekeringan.  Pihaknya telah menyiapkan beberapa serangkaian untuk dapat mengatasi kekeringan di kota Surabaya seperti pompa air dan selang. “Kami masih lakukan pendataan wilayah mana saja yang kekeringan,” kata Djoestamadji kepada wartawan.  (rm)