BBPOM Sita Obat Kuat Ilegal Rp 1,6 Miliar

 

BBPOM Sita Obat Kuat Ilegal Rp 1,6 Miliar

Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Surabaya bersama tim gabungan berhasil amankan ratusan obat kuat dari berbagai wilayah di Jawa Timur, akhir Agustus lalu. Obat kuat yang disita tersebut berasal dari Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Malang, dan Bojonegoro.

Obat-obatan tersebut sendiri saat dilihat tidak mempunyai izin edar dan izin kesehatan dari pihak yang berwenang. Tidak hanya obat kuat yang disita, juga berbagai merek kosmetika dan jamu kesehatan.

Menurut Kepala BBPOM Surabaya I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa, tim gabungan bersama pihaknya mengamankan 344 karton jamu tradisional tanpa izin edar dalam 674 merk item atau 91.891 piece.

“Jamu dan kosmetik ini bernilai lebih dari Rp 1,6 miliar,” tegas I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa kepada wartawan di Surabaya, Senin (1/9/2014).

Selain menyita obat kuat tidak layak edar tersebut, tim gabungan ini juga mengamankan lima pemilik agen untuk diproses lebih lanjut di kepolisian.

Ia mengimbau bagi masyarakat agar waspada terhadap peredaran obat-obatan yang berbahaya tersebut. Karena bila dipakai dan konsumen merasakan keanehan maka akan dirugikan karena tidak bisa menuntut produsen itu.

“Di kemasannya saja tidak tercantum komposisi bahannya apa. Juga tidak ada izin dari pihak berwenang mulai pencantuman label hingga layak izin edar,” jlentrehnya.

Dengan temuan ini, pihak BBPOM Surabaya sendiri terus memantau peredaran obat tidak layak edar di kota atau kabupaten lain. Dirinya tidak memungkiri bila peredaran obat kuat ini hingga sampai ke pelosok daerah.

“Kami juga meminta agar masyarakat aktif melaporkan kepada kami bila diketahui ada obat yang tidak mencantumkan bahan-bahannya. Atau lebih bagus bila belinya di apotik yang resmi jangan di sembarang toko,” ujarnya.

Dan bagi pelanggar ini akan dikenakan Undang-Undang (UU) Nomor 39 Tahun 2009 tentang Obat Tanpa Izin Edar dengan ancaman hukuman 10-15 tahun penjara.

“Dengan pemberlakuan ini agar pengedar obat tidak berizin agar jera,” pungkasnya. (wh)