Batik Teyeng Kini Tembus Pasar Nasional

Batik Teyeng Kini Tembus Pasar Nasional
Firman Ashari (50) dan Nuriani (45), pasangan suami istri yang sukses kembangkan usaha Batik Teyeng yang omzetnya mencapai Rp 15 juta sebulan. Arya wiraraja/enciety.co

Inspirasi sukses bisa datang dari mana saja dan terjadi  secara tak sengaja. Seperti dialami pasangan Firmasn Ashari (50) dan Nuriani (45).  Suami istri yang tinggal di Benowo, Surabaya ini  meraih sukses berkat Batik Teyeng bersama program Pahlawan Ekonomi 2015.

Batik Teyang merupakan salah satu motif yang dikembangkan pasangan ini. Teyeng, kosa kata Jawa yang berarti karatan dalam Bahasa Indonesia, ternyata mampu diubah bernilai rupiah.

“Waktu itu, ketika menjemur kain batik kreasi saya yang pertama, saya menjemurnya di jemuran pakaian yang sudah berkarat, karena itu suami saya berinisiatif untuk menamai kain batik ini dengan nama kain batik teyeng,” papar Nuriani. .

Nur, karibnya ia dipanggil, mengaku memulai usaha batiknya berangkat dari keisengannya mengikuti pelatihan-pelatihan yang diadakan Pahlawan Ekonomi di Kaza City, Jalan Kapas Krampung, Surabaya.

“Saya diberi tahu oleh teman tenang pelatihan Pahlawan Ekonomi yang diadakan tiap hari Minggu,” tandas dia.

Nur mengungkapkan, usahanya ini dimulai tahun 2013. Kala itu, dirinya baru ikut pelatihan selama empat kali. Ketika itu ada pelatihan membuat batik tulis.  “Saya sangat tertarik dengan prosesnya dan ketika dilakoni ternyata sangat mudah,” tutur dia.

Setelah sukses menciptakan sebuah karya kreatif, ia mengajak suaminya untuk menjadi salah satu kader Pahlawan Ekonomi juga. “Saya mengajak suami saya untuk ikut pelatihan, dan hasilnya ternyata suami saya lebih jago dalam hal membuat kain batik,” ungkap dia.

Firman Ashari menambahkan, dari usaha kain batik tulis yang telah digeluti ia mampu menghasilkan omzet Rp 15 juta per bulannya. “Berkat kerja keras kami setiap hari rata-rata kami dapat menjual dua kain batik dengan harga Rp 200 ribu per helainya, Mas,” tandas dia.

Firman lalu mengatakan, saat ini pemasaran kain batik tulisnya hingga Jawa Barat dan Jakarta. “Kami sudah mendapatkan pesanan di berbagai daerah di Pulau Jawa, antara lain Malang, Lamongan, Jember, Jogjakarta, Solo, Bandung dan Jakarta,” tuturnya.

Selain itu, saat ini pemasaran produknya telah menggunakan media sosial. “Media Sosial telah memudahkan kami dari segi pemasaran, kami sering dapat pesanan ke daerah-daerah lain dengan bantuan Facebook, Twitter dan Instagram,” pungkasnya. (ram/wh)